Judul tersebut adalah tagline yang diusung Universitas Mataram dalam merayakan Dies Natalis ke-64 pada bulan Oktober ini. Membaca slogan tersebut, saya langsung teringat kepada John Naisbitt, penulis yang pada 1990 bersama Patricia Aburdene menerbitkan buku best seller Megatrends 2000. Sebuah buku yang pada zamannya cukup berani karena mencoba membaca ke mana dunia sedang bergerak, bukan berdasarkan ramalan, tetapi dengan mencermati gejala-gejala perubahan yang sudah berlangsung di tengah masyarakat.
Dalam Megatrends 2000, Naisbitt menggambarkan sepuluh kecenderungan besar yang diyakininya akan membentuk perubahan dunia menuju milenium baru. Mulai dari ekonomi, seni, gaya hidup, peran perempuan, perkembangan kawasan Asia-Pasifik, hingga kebangkitan spiritualitas. Yang menarik dari Naisbitt bukan semata-mata daftar megatrend-nya, tetapi cara ia membangun argumentasi. Ia tidak mengklaim menemukan sesuatu yang sama sekali baru. Ia justru melakukan sesuatu yang sering kali lebih sulit: membaca realitas yang ada, menemukan polanya, kemudian menarik garis kecenderungannya ke masa depan. Dengan bahasa yang sederhana, ia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari gejala-gejala kecil yang luput kita perhatikan.
Salah satu gagasan Naisbitt yang menarik perhatian saya adalah pandangannya mengenai kebangkitan ekonomi China. Ia melihat bahwa kekuatan ekonomi China tidak semata-mata bertumpu pada perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga pada jaringan industri kecil, usaha rumah tangga, dan rantai produksi yang melibatkan banyak pelaku ekonomi. Dalam pandangannya, struktur seperti ini dapat membangun fondasi ekonomi yang luas karena menciptakan keterlibatan dan distribusi manfaat pada lebih banyak lapisan masyarakat. Gagasan tersebut menjadi salah satu cara Naisbitt membaca kemungkinan perubahan keseimbangan ekonomi dunia—bukan hanya dari siapa yang memiliki perusahaan terbesar, tetapi dari siapa yang mampu membangun ekosistem ekonomi yang paling luas dan produktif.
Dan bisa lihat faktanya sekarang. Prediksi itu benar adanya.
Ada satu gagasan lain dari Naisbitt yang menurut saya jauh lebih menarik dan justru sangat relevan dengan tagline Dies Natalis Unram kali ini. Ketika dunia bergerak menuju globalisasi, ternyata yang menguat bukan hanya kekuatan-kekuatan global. Nilai, identitas, pengetahuan, produk, dan keunggulan lokal justru memperoleh ruang baru. Dunia semakin terhubung, tetapi masyarakat tidak serta-merta kehilangan identitas lokalnya. Sebaliknya, sesuatu yang khas, otentik, dan berakar pada tempat tertentu dapat memperoleh nilai yang semakin tinggi ketika dibawa ke pasar dan ruang global.
Empat tahun setelah Megatrends 2000, Naisbitt menerbitkan Global Paradox. Di dalam buku ini ia mengembangkan gagasan bahwa globalisasi tidak harus dimaknai sebagai hilangnya kekuatan lokal. Justru terdapat sebuah paradoks: semakin besar dunia terhubung secara global, semakin penting kemampuan untuk mengembangkan kekuatan lokal. Globalisasi membuka panggung yang lebih luas, tetapi yang dibawa ke atas panggung itu haruslah sesuatu yang memiliki karakter, keunggulan, dan nilai yang nyata.
Karena itu, gagasan Think Globally, Act Locally menjadi sangat relevan: berpikir dengan perspektif global, tetapi bertindak berdasarkan kekuatan dan kebutuhan nyata di tingkat lokal.
Saya kira di sinilah relevansi Global Paradox dengan Universitas Mataram menjadi menarik. Lombok dan NTB bukan sekadar lokasi tempat Unram berdiri. Wilayah ini adalah laboratorium besar bagi berbagai persoalan dunia: perubahan iklim, ketahanan pangan, pengelolaan pulau-pulau kecil, konservasi hutan dan mangrove, pariwisata berkelanjutan, energi, kemiskinan, kesehatan masyarakat, budaya, hingga ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan.
Karena itu, ketika Unram pada Dies Natalis ke-64 mengusung tagline “From Local to Global Impact”, saya kira pesannya jauh lebih dalam daripada sekadar slogan. Pesan itu adalah ajakan untuk mengubah cara pandang: jangan melihat lokal sebagai keterbatasan, tetapi sebagai sumber keunggulan. Apa yang kita miliki di NTB, sumber daya alam, kekayaan budaya, persoalan pembangunan, pengetahuan masyarakat, kreativitas mahasiswa, kompetensi dosen, dan jejaring kelembagaan perlu dikerahkan menjadi kekuatan akademik yang menghasilkan dampak nyata.
—-MK—