Pengembangan teknologi ramah lingkungan menjadi kunci untuk menjawab tantangan ketahanan pangan dan energi di tengah krisis iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam. Sinergi antar pihak, termasuk peran aktif perguruan tinggi, sangat penting dalam mendorong inovasi yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Hal tersebut mendasari pentingnya diselenggarakan Seminar Nasional sebagai ruang kolaboratif untuk berbagi pengetahuan, merumuskan solusi, dan memperkuat jejaring pemangku kepentingan di tingkat lokal maupun nasional.

| Sambutan Rektor Unram |

| Suasana seminar saat presentasi Keynote Speaker |
Latar Belakang
Ketahanan pangan dan energi merupakan isu strategis yang menjadi perhatian utama dalam pembangunan nasional. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan iklim yang semakin nyata, kebutuhan akan sumber daya pangan dan energi yang berkelanjutan menjadi semakin mendesak. Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan menjadi solusi yang dapat mendukung keberlanjutan sumber daya alam. Sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan energi di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang sinergis antara akademisi, praktisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi yang inovatif dan berkelanjutan.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Pascasarjana Universitas Mataram memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kegiatan akademik seperti seminar nasional, institusi ini dapat menjadi wadah bagi para peneliti, akademisi, dan praktisi untuk berbagi. Berbagi hasil penelitian dan inovasi yang dapat diterapkan dalam sektor pangan dan energi. Seminar ini juga menjadi kesempatan bagi berbagai pemangku kepentingan untuk berdiskusi dan merumuskan solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam bidang ketahanan pangan dan energi.
Tujuan
Seminar Nasional bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai inovasi teknologi yang dapat digunakan dalam pengelolaan sumber daya pangan dan energi yang lebih berkelanjutan. Selain itu juga untuk memperkuat jejaring antara akademisi, praktisi, serta institusi pemerintah dan swasta untuk mendukung ketahanan pangan dan energi untuk kemandirian bangsa Indonesia.
Seminar Nasional Pascasarjana Universitas Mataram ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan menjadi katalisator bagi pengembangan teknologi. Agar berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan energi di masa depan. Keberhasilan seminar ini tidak hanya terletak pada diskusi akademik, tetapi juga pada implementasi nyata hasil penelitian yang dapat diaplikasikan untuk kemandirian di sektor pangan dan energi.
Rumusan Hasil Seminar
Konsep Teknologi Ramah Lingkungan
Teknologi ramah lingkungan dapat dimaknai dalam dua pendekatan utama, yaitu dari sisi konsep dan dari sisi perangkat atau instrumen yang digunakan. Dari sisi konsep, teknologi ini menekankan pada proses produksi yang menjaga keseimbangan produktivitas dan keberlanjutan lingkungan. Artinya, meskipun produksi ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun prosesnya harus menghasilkan limbah seminimal mungkin dan menekan emisi karbon.
Konsep ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, di mana pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Dalam konteks ini, efisiensi energi, pengelolaan limbah, daur ulang bahan baku, dan inovasi proses produksi menjadi bagian penting dari penerapan teknologi ramah lingkungan secara konseptual.
Sementara itu, dari sisi perangkat atau instrumen, teknologi ramah lingkungan mengandalkan sumber energi yang dapat diperbaharui seperti air (hidro), angin (angin turbin), matahari (panel surya), dan listrik dari sumber non-fosil lainnya. Penggunaan perangkat tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang menghasilkan emisi tinggi dan mencemari lingkungan.
Selain itu, perangkat ini juga dirancang agar dalam penggunaannya menghasilkan limbah dan emisi yang rendah. Dalam penerapannya, teknologi ini sangat relevan dalam berbagai sektor seperti green food (produksi pangan berkelanjutan), blue food (produk perikanan ramah lingkungan), dan green energy (energi terbarukan). Kesemuanya berperan penting dalam mewujudkan ekonomi hijau dan ketahanan terhadap perubahan iklim.


Masalah Pangan dan Energi Ramah Lingkungan
Secara nasional, permasalahan ketahanan pangan semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan pangan meningkat tajam, namun sayangnya pertumbuhan produksi pangan nasional cenderung fluktuatif. Ketimpangan ini mengarah pada risiko rawan pangan yang lebih tinggi, terutama bagi kelompok rentan.
Sementara itu, Indonesia memiliki potensi energi yang sangat besar dan beragam, mulai dari energi fosil hingga energi baru terbarukan. Namun, tantangan utama terletak pada aspek pemanfaatan dan keterjangkauan dalam pengelolaan energi tersebut. Keterbatasan infrastruktur, ketimpangan distribusi, serta biaya investasi yang tinggi seringkali menjadi penghambat pemanfaatan energi secara optimal dan berkeadilan, terutama di daerah-daerah terpencil.
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), permasalahan pangan dan energi memiliki karakteristik tersendiri yang menonjol. Tiga isu utama yang dihadapi adalah kemiskinan ekstrem, kerawanan pangan, dan ketergantungan energi. Kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan yang membatasi akses masyarakat terhadap pangan bergizi dan energi yang layak.
Adapun tiga tantangan utama dalam sektor pangan di NTB adalah terkait dengan aspek ketersediaan, distribusi, dan kecukupan pangan di tingkat daerah. Secara agregat, NTB sebenarnya surplus dalam komoditas utama seperti beras dan jagung. Namun, surplus ini belum sepenuhnya mencerminkan ketahanan pangan yang merata. Hal ini disebabkan oleh sistem distribusi pangan yang belum efisien serta pola budidaya yang masih bersifat destruktif dan kurang ramah lingkungan.
Praktik-praktik pertanian intensif yang mengandalkan pupuk dan pestisida kimia dalam jangka panjang berisiko merusak ekosistem tanah dan sumber daya air. Oleh karena itu, NTB perlu mendorong sistem pertanian yang lebih berkelanjutan melalui teknologi ramah lingkungan dan penguatan kelembagaan pangan lokal untuk mewujudkan kemandirian pangan dan energi.

| Peserta Seminar Nasional memenuhi ruang Ballroom di Hotel Prime Park |
Kebutuhan Kebijakan
Pengembangan teknologi ramah lingkungan perlu diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan sektor pangan dan energi, disertai dukungan kebijakan, pendanaan, dan insentif. Tujuannya memperkuat sistem produksi yang tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap krisis iklim, degradasi lahan, serta keterbatasan energi.
Kebijakan pangan dan energi perlu didasarkan pada data dan spasial yang aplikatif, melalui pemetaan potensi sumber daya dan kerawanan wilayah, guna memastikan intervensi yang tepat sasaran, efisien, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan keterbatasan sumber daya.
Dalam rangka mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, sangat penting untuk menghasilkan riset-riset berbasis kebutuhan lokal. Salah satu kebutuhan mendesak adalah pengembangan varietas padi unggul dengan produktivitas tinggi (minimal 9 ton per hektar), umur genjah (panen dalam 100 hari), serta hemat dalam penggunaan pupuk dan pestisida. Penelitian juga perlu mencakup adaptasi terhadap perubahan iklim. Serta pengembangan teknologi pascapanen dan distribusi yang lebih efisien untuk menekan kehilangan hasil (post-harvest losses).
Kebutuhan pangan dan energi tidak boleh hanya berfokus pada sumber daya berbasis daratan (green food). Tetapi juga perlu mengoptimalkan potensi kelautan (blue food). Sumber daya laut seperti ikan, rumput laut, dan biota lainnya memiliki potensi besar sebagai sumber pangan bernilai tinggi dan energi alternatif yang berkelanjutan. Strategi pembangunan ke depan harus mencakup diversifikasi pangan dan energi, dengan mengedepankan pendekatan ekosistem laut yang berkelanjutan.
Infrastruktur
Mendorong pembangunan infrastruktur pertanian cerdas, seperti irigasi tetes berbasis sensor, penggunaan drone pertanian, energi surya untuk pompa air, dan platform digital pemantau cuaca serta hama, untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Menyediakan dukungan insentif untuk pengembangan infrastruktur energi ramah lingkungaan, yang selama ini, masih dihadapkan pada high cost, keterbatasan pasar dan , keterbatasn SDM.
Kampus Berdampak
Perlunya universitas bisa kolaborasi dengan para pihak di daerah, untuk bekerjasama mengembangkan teknologi ramah lingkungan, dengan memanfaatkan sumber daya yang belum optimal dikelola. Kolaborasi ini juga mendorong inovasi berbasis potensi lokal, memperkuat jejaring riset, dan mempercepat pemanfaatan teknologi tepat guna bagi masyarakat.

| Suasana saat presentasi makalah di kelas paralel |
Memulai dari yang kecil tetapi memberikan manfaat yang maksimal adalah langkah strategis, karena teknologi ramah lingkungan sejatinya harus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Pendekatan ini selaras dengan visi Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini, yakni menciptakan “kampus berdampak” yang berkontribusi langsung bagi perubahan sosial.
Mengembangkan kurikulum dan pelatihan yang memuat prinsip-prinsip teknologi ramah lingkungan, serta mendorong literasi digital dan ekologi bagi petani, nelayan, dan generasi muda di daerah pedesaan. Hal ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang adaptif, berdaya saing, dan sadar lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim dan transformasi digital.
Oleh Markum, Guru Besar Universitas Mataram, 25 Juli 2025