Belajar dari Negara Nauru: dari Negara Terkaya Menjadi Negara Termiskin di Dunia

Oleh Markum

Saya yakin tidak banyak orang mengetahui, apa itu Nauru.  Nauru adalah sebuah negara sangat kecil, luasnya hanya 21 km2, negara terkecil ketiga di dunia selain Vatikan dan Monaco, berpenduduk 12.581 jiwa, terletak di Lautan Pasifik sebelah Timur Laut Papua New Guinea. Kalau kita buka google map, negara tersebut baru terlihat dengan jelas setelah di zoom beberapa kali.

Apa yang menarik dengan negara kecil ini ? Negara yang memperoleh kemerdekaan tahun 1968 ini memiliki deposit Fosfat besar, dan bukan sembarang Fosfat, tetapi Fosfat yang berasal dari kotoran burung selama ratusan tahun. Fosfat merupakan bahan utama pupuk, yang sangat dibutuhkan untuk produksi pertanian, hal ini yang mendorong Australia dan Zew Zealand melakukan penambangan besar-besaran di Nauru. Hasil penambangan Fosfat (1970-1980), bisa mengantarkan negara memiliki income per capita per tahun tertinggi di dunia mencapai US $27.000, bandingkan dengan pendapatan Amerika saat itu US $ 12.500.

Pendapatan yang begitu besar, sayangnya tidak dikelola dengan baik oleh negara. Uang lebih banyak dihamburkan untuk hal-hal konsumtif, tidak digunakan untuk investasi yang produktif dan jangka panjang. Masyarakat dimanjakan dengan berbagai layanan pemerintah yang high cost, menyebabkan perubahan drastis kultur masayrakat dari tradisional menjadi bergaya modernis dan hedonis.

Kejayaan Nauru mulai runtuh setelah tambang Fosfat menipis sejak 1990.   Dampak dari penambangan Fosfat, menyisakan kerusakan daratan seluas 80 % yang tidak layak huni, karena bekas tambang berubah menjadi padang pasir bergerigi yang tandus, penuh dengan kanal batu, tonjolan karang, dan menara batu kapur.  Akhirnya penduduk hanya dapat tinggal di tepi-tepi luar pulau.

Bagaimana kondisi Nauru saat ini ?  Sejak tahun 2017 Nauru termasuk 5 negara paling miskin di dunia. Negara tidak punya sumber daya cukup untuk menopang hidup penduduknya. Sepanjang mata memandang, yang terlihat di Nauru adalah tanah bekas tambang yang tidak produktif dan tidak nyaman dilihat.  Eksploitasi sumber daya alam yang terlalu bersemangat menghasilkan uang, dan tidak menerapkan prinsip kehati-hatian mengelola tambang dan hasil tambang, ternyata tidak membutuhkan waktu lama, 30-40 tahun, telah mampu menjungkirbalikkan ke adaan, dari negara terkaya di dunia, menjadi negara termiskin di dunia.

—ooo—