PUPUK CAIR MIKRO ORGANISME LOKAL BUATAN MAHASISWA KKN DESA MONTONG BAAN, SOLUSI PERTANIAN CERDAS RAMAH LINGKUNGAN

Di tengah tantangan meningkatnya ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia, mahasiswa KKN PMD UNRAM 2025 di Desa Montong Baan Kabupaten Lombok Timur, menghadirkan solusi pembuatan Pupuk Cair Mikro Organisme Lokal (MOL) untuk budidaya pertanian cerdas ramah lingkungan.    

Ketergantungan Pupuk Kimia

Ketergantungan pada pupuk kimia telah lama menjadi persoalan umum khususnya di Desa Montong Baan. Sekitar 60% masyarakat Desa Montong Baan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Luas lahan pertanian mencakup seluas kurang lebih 300 hektar. Tanaman yang umum dibudidayakan yaitu padi, cabai, tomat, dan tembakau. Potensi pertanian sangat tinggi, namun di balik potensi pertanian tersebut kegiatan pertanian di Desa Montong Baan masih menghadapi persoalan yaitu ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk kimia sintetis. Pupuk kimia dalam jangka panjang akan berdampak pada menurunnya kesuburan tanah, lingkungan, dan beban biaya produksi petani yang semakin tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian Putri Nisrina Ambarwati (UIN Sunan Ampel Surabaya, 2024), penerapan pupuk cair berbahan bonggol pisang dan air cucian beras terbukti meningkatkan pertumbuhan tanaman seledri secara signifikan. Kombinasi MOL tersebut mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, serta kadar flavonoid total hingga 20,1 mg EQ/g. Temuan ini menunjukkan bahwa MOL bukan sekadar alternatif, tetapi solusi yang terbukti secara ilmiah dalam mendukung pertanian ramah lingkungan.

Sosialisasi Penggunaan Pupuk Cair

Tim KKN PMD Universitas Mataram 2025 menginisiasi sosialisasi pembuatan pupuk cair Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai solusi pertanian ramah lingkungan alternatif penggunaan pupuk kimia. Kegiatan ini diikuti oleh total sebanyak 66 peserta terdiri dari Kepala Wilayah (Kawil), Ketua Kelompok Tani, anggota BPD, petani aktif, ibu-ibu tani, dan tokoh pemuda. Kegiatan dilaksanakan selama 4 hari mulai tanggal 14-17 Juli 2025 di 8 Dusun.

Setiap kegiatan sosialisasi dilaksanakan di lokasi halaman rumah kepala wilayah atau di tempat fasilitas umum di dusun. Materi yang disampaikan oleh tim KKN meliputi beberapa sessi yaitu: pengenalan MOL, bahaya penggunakan pupuk kimia, cara menggunakan MOL.   

Sesi dilanjutkan dengan praktik pembuatan MOL menggunakan bahan-bahan lokal seperti bonggol pisang, air cucian beras, dan gula merah. Masyarakat terlihat antusias mengikuti kegiatan praktik pembuatan MOL, terbukti dari banyaknya peserta yang bertanya ketika sessi tersebut diperagakan. 

Bahan Pembuatan Pupuk

Pupuk cair mikroorganisme lokal (MOL) dapat dibuat dengan bahan yang sangat mudah ditemukan di lingkungan sekitar tanpa perlu membeli bahan khusus. Dalam kegiatan praktik di Desa Montong Baan tim KKN menggunakan 1 kg bonggol pisang yang dicincang, 2 liter air cucian beras, dan 200 gram gula merah yang sudah dihaluskan.

Proses pembuatannya sederhana pertama, gula merah terlebih dahulu dilarutkan ke dalam sebagian air cucian beras kemudian setelah larutan tercampur, bonggol pisang yang sudah dicincang dimasukkan ke dalam wadah atau toples besar, lalu disusul dengan menuangkan larutan gula dan air cucian beras ke dalamnya. Setelah semua bahan dicampur toples ditutup rapat dan dipasangi selang ke dalam botol berisi air sebagai saluran pembuangan gas, karena proses fermentasi berlangsung secara anaerob. Wadah kemudian disimpan di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung selama 14 hari. Pada hari ke-15 pupuk MOL sudah siap digunakan ditandai dengan aroma khas menyerupai tape dan tidak berbau busuk.

Empat belas hari setelah praktik pembuatan pupuk cair MOL tim KKN kembali melakukan monitoring dan evaluasi terhadap proses fermentasi pupuk yang disimpan di rumah salah satu warga, kemudian ciri-ciri pupuk yang berhasil setelah melewati masa fermentasi yaitu memiliki aroma yang khas seperti aroma tape dan tidak berbau busuk. Kegiatan ini bertujuan meninjau keberhasilan proses sekaligus mendorong keberlanjutan penggunaan pupuk cair MOL di tengah masyarakat meskipun masa KKN telah berakhir.

Manfaat Pupuk MOL

Program ini hadir sebagai upaya mendukung pertanian ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pupuk kimia yang selama ini menjadi kebutuhan utama dalam bercocok tanam. Penggunaan MOL memiliki beberapa manfaat positip antara lain: Membantu meningkatkan kesuburan tanah karena mengandung mikroorganisme yang memperkaya kandungan organik tanah, lalu dapat memperbaiki struktur tanah dan mempermudah proses pengolahan lahan. Di sisi lain MOL juga berperan dalam menekan mikroba patogen penyebab penyakit tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih sehat secara alami. Manfaat penting lainnya adalah mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya mahal dan berdampak buruk dalam jangka panjang, sekaligus membantu meningkatkan hasil pertanian dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Masyarakat Desa Montong Baan diharapkan dapat terus memproduksi dan menggunakan MOL secara mandiri sebagai bagian dari upaya menciptakan pertanian yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Produk MOL dan penggunaannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Penutup

Program ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa. Kepala Desa Montong Baan, Bapak Samsul Hadi S.H menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN PMD UNRAM. “Kami sangat mendukung program seperti ini, karena bisa membantu masyarakat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan berdampak buruk bagi tanah. Harapannya setelah KKN selesai pun kegiatan ini tetap bisa dilanjutkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Program ini tidak hanya menjadi bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat desa tetapi juga menjadi cerminan sinergi antara dunia kampus dan realitas desa. Langkah kecil dari Desa Montong Baan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya besar menuju pertanian yang sehat, hemat biaya, dan lebih berpihak pada kelestarian lingkungan.

Artikel ini juga sudah publish di Lombok Insider