Malam di rumah Armansyah dan Arimbi selalu terasa sunyi. Mereka duduk bersebelahan di ruang tamu, tetapi tidak pernah benar-benar bersama. Armansyah, seorang guru SMA, tenggelam dalam buku-bukunya, sementara Arimbi sibuk memeriksa layar ponselnya, sesekali tersenyum sendiri. Rumah mereka tampak harmonis di mata orang lain, tetapi di dalamnya, masing-masing menyimpan rahasia.
—————-
Arimbi melirik suaminya yang duduk dengan kacamata di ujung hidungnya, fokus membaca buku. Ia menghela napas panjang.
Arimbi: “Pak, besok saya pulang agak malam, ada rapat di kecamatan.”
Armansyah: tanpa mengangkat kepala dari buku “Hmm… Oke.”
Arimbi: kesal “Jawabnya cuma begitu? Tanya kek, rapat apa, kenapa sampai malam?”
Armansyah: menutup bukunya perlahan “Yah, kalau memang rapat, ya rapat. Saya percaya sama kamu.”
Arimbi: tertawa kecil, sarkastik “Oh ya? Kamu percaya sama aku atau kamu juga menyimpan rahasia sendiri?”
Armansyah terdiam. Ia tahu bahwa kepercayaan dalam rumah tangga mereka hanya sebatas kata-kata. Keduanya diam-diam menjalani kehidupan masing-masing. Bagi Armansyah, rutinitas mengajar dan sesekali bertemu seseorang di luar rumah adalah pelariannya. Bagi Arimbi, teman-teman kantornya sering kali menjadi tempat berbagi lebih dari sekadar cerita.
—————-
Armansyah duduk di sudut kafe, menyeruput kopi pelan. Di hadapannya seorang wanita bernama Mira, seorang janda muda yang sering ia temui secara diam-diam.
Mira: “Masih sering diam di rumah? Isterimu tahu kalau kita sering bertemu?”
Armansyah: tersenyum tipis “Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Aku juga begitu. Kami hanya tinggal satu atap.”
Mira: “Kenapa nggak berpisah saja?”
Armansyah: menghela napas “Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Nama baik, keluarga, dan— entahlah, mungkin juga kebiasaan.”
Mira menatap Armansyah dengan iba. Ia tahu lelaki itu terjebak dalam hubungan yang sudah dingin, tetapi ia pun sadar, ia bukanlah pelabuhan terakhirnya.
———————
Arimbi berdiri di depan cermin kecil di mejanya, membetulkan riasan wajahnya. Seorang pria bertubuh tegap, bernama Rudi, mendekatinya dengan senyum menggoda.
Rudi: “Kamu selalu terlihat cantik, Mbak Arimbi. Pasti Pak Arman bangga punya istri seperti kamu.”
Arimbi: tertawa kecil “Halah, bisa saja kamu, Mas Rudi. Kalau di rumah, mungkin aku cuma pajangan.”
Rudi: berbisik “Kalau begitu, cari tempat yang bisa lebih menghargai kecantikanmu. Seperti di sampingku, misalnya.”
Arimbi tahu apa maksud Rudi. Ia pun tak menolak perhatian yang diberikan pria itu. Hubungannya dengan Armansyah sudah tak lagi seperti dulu. Ia tak merasa bersalah, karena ia yakin suaminya pun punya rahasianya sendiri.
———————–
Armansyah pulang menjelang petang, lebih awal dari isterinya. Tak lama kemudian, Ia melihat Arimbi yang baru saja masuk rumah, dengan riasan yang sudah sedikit pudar.
Armansyah: “Rapat sampai malam ya?”
Arimbi: tanpa ragu “Iya, namanya juga kerja. Kamu sendiri kenapa pulang cepat?”
Armansyah: “Ya, cuma ingin pulang lebih awal saja. Tidak ada salahnya, kan?”
Arimbi: tersenyum tipis “Tentu. Rumah ini tetap rumah kita, kan?”
Setelah itu, keduanya masuk ke kamar dengan pikiran masing-masing. Malam semakin larut, dan suasana rumah yang tadinya sunyi berubah tegang ketika Arimbi tiba-tiba mengangkat suaranya.
Arimbi: “Kamu pikir aku nggak tahu, ya? Kamu sering pulang lebih awal, tapi bukan untuk di rumah! Siapa dia, hah?!”
Armansyah: terkejut, mencoba tenang “Maksud kamu apa? Jangan asal bicara.”
Arimbi: mendekat, menatap tajam “Jangan pura-pura polos! Aku bisa mencium parfum yang bukan milikku di bajumu. Kamu bukan pria yang wangi, jadi jelas ini bukan punyamu!”
Armansyah: tersenyum sinis “Lucu sekali, kamu menuduhku selingkuh, sementara aku juga bisa merasakan keanehanmu. Kamu semakin cantik akhir-akhir ini, tapi bukan untukku, kan?”
Arimbi: terdiam sejenak, lalu tertawa mengejek “Jadi kita sama-sama curiga? Bagus. Mungkin memang kita bukan pasangan yang bodoh, ya?”
Armansyah: menghela napas berat “Tapi tetap saja kita memilih bertahan. Kenapa?”
Arimbi: menatap kosong ke dinding “Mungkin karena kita terlalu takut mengakui bahwa semuanya sudah berakhir. Atau mungkin… karena kita lebih nyaman dalam kebohongan ini.”
Pertengkaran mereka mereda menjadi keheningan yang lebih dingin dari sebelumnya. Keduanya tahu, tidak ada yang menang dalam perdebatan ini. Mereka hanya dua orang yang bertahan dalam rumah yang tak lagi menjadi rumah. Hubungan terlihat harmonis di mata orang lain, tetapi sesungguhnya mereka merasakan seperti menelan racun setiap hari.
Oleh Markum, 24 Februari 2025