“Kekeringan dan Gagal Panen” menjadi tema dialog TVRI pada Kamis, 17 September 2026, dan saya mendapat kesempatan menjadi salah satu narasumber. Sebenarnya, musim kemarau bukanlah bencana, melainkan bagian dari siklus alam yang normal. Pergantian musim berkaitan dengan revolusi bumi mengelilingi matahari dan dinamika angin monsun yang bergerak antara Benua Asia dan Australia melewati Indonesia. Karena itu, datangnya musim kemarau semestinya merupakan kondisi yang dapat diprediksi dan diantisipasi.
Persoalannya menjadi tidak normal ketika musim kemarau baru saja dimulai, tetapi debit sungai menurun tajam, sumber air mulai menyusut, dan ketersediaan air untuk irigasi maupun air baku sudah terbatas. Pertanyaannya, mengapa lanskap kita semakin cepat kehilangan air?
Setidaknya ada tiga faktor yang saling berkaitan. Pertama, berkurangnya tutupan vegetasi menyebabkan kemampuan tanah menangkap dan meresapkan air hujan semakin rendah. Air yang seharusnya tersimpan di dalam tanah justru lebih cepat menjadi limpasan permukaan, sekaligus membawa tanah melalui proses erosi. Kedua, material hasil erosi kemudian terangkut ke sungai, embung, waduk, dan bendungan, lalu mengendap sebagai sedimentasi. Akibatnya, kapasitas tampungan air yang sangat dibutuhkan pada musim kemarau terus berkurang.
Ketiga, perubahan iklim memperbesar tekanan tersebut. Peningkatan suhu mempercepat evapotranspirasi dan kehilangan air, sementara pola hujan menjadi semakin sulit diprediksi. Jadi, persoalan kekeringan tidak semata-mata karena tidak adanya hujan, tetapi juga karena kemampuan lanskap menyimpan air semakin melemah.
Inilah potret kerentanan lanskap kita. Ketika kemampuan daerah tangkapan air menurun, kita kehilangan mekanisme alamiah untuk mengatur air antar musim. Pada musim hujan, air datang dalam jumlah besar tetapi terlalu cepat dialirkan ke hilir; sementara pada musim kemarau, cadangan air yang seharusnya tersimpan di tanah dan berbagai badan air tidak lagi mencukupi kebutuhan pertanian dan masyarakat.
Dampaknya kemudian muncul dalam bentuk kekeringan, kekurangan air irigasi, penurunan produksi, hingga gagal panen dan bahkan gagal tanam. Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan sekadar bagaimana menghadapi musim kemarau, tetapi bagaimana memulihkan kemampuan lanskap untuk menangkap, menyimpan, dan melepaskan air secara perlahan sepanjang tahun. Jika tidak, kita akan terus menghadapi ironi yang sama: saat musim kemarau kita memanen kekeringan, dan saat musim hujan kita memanen banjir.
——-MK—–