Dalam perjalanan ke Yogyakarta, saya bersama seorang teman dari Unram menggunakan pesawat transit Mataram–Denpasar-Yogyakarta. Saat tiba di Denpasar, kami sudah ditunggu oleh petugas di pintu masuk. Sambil menyerahkan tiket Denpasar-Yogyakarta, Dia mengatakan bahwa pesawat ke Yogya sudah last call, sudah siap berangkat, jadi kami harus segera masuk ke pesawat.
Dengan terburu-buru kami menuju Gate sesuai yang tertera di tiket. Ternyata Gate yang kami tuju lumayan jauh, paling ujung. Tak pelak, karena lari sambil bawa koper dan tas ransel, leher jadi berkeringat dan napas lumayan ngos-ngosan. Ketika saya masuk ke Garbarata menuju pesawat, saya melirik keluar, “Sialan, ternyata pesawat yang kami tumpangi dari Mataram ke Denpasar, tepat berdampingan dengan pesawat yang menuju Yogya ini. Jika saja ini bus, tentu kami tinggal melompat ke dalam, tidak perlu check in ulang dan lari-lari seperti sekarang ini.” Batinku.
Saat saya masuk ke dalam pesawat, sungguh saya dibuat terpana oleh pemandangan di dalam kabin pesawat. Kabin sudah penuh terisi penumpang, dan 90% mereka adalah berwajah bule. Saya jadi kikuk karena ketika berjalan di lorong seakan semua mata menatap ke kami. Bayangkan dipelototi oleh sepasang mata milik 220 penumpang berkulit bule, seperti mau diterkam alien rasanya. Dalam hati saya ngumpat ke pesawat sebelumnya, gara-gara pesawat terlambat landing, sehingga kami harus paling telat masuk ke pesawat ini.
Sesampainya di seat yang kami tuju, ternyata disitu sudah duduk dua perempuan bule. Perkiraan saya usia mereka sudah di atas enam puluh tahun, postur tubuhnya agak gemuk, berambut keriting dan berkaca mata. Saya jadi ragu dan tidak yakin, “apakah saya salah kursi?” Saya pelototi tiket saya, dan ternyata nomor kursi yang saya tuju sudah sesuai dengan nomor di tiket. Tetapi mengapa di situ sudah ada dua emak-emak bule ini? Kemudian saya panggil pramugari dan memberitahu tentang permasalahannya.
Setelah pramugari memeriksa tiket kami dan kedua penumpang tersebut, pramugari mempersilahkan kedua bule pindah ke nomor kursi yang benar. Tetapi rupanya kursi yang dimaksud juga sudah ditempati oleh bule lain. Emak-emak bule tetap bertahan tidak mau pindah, dan bahkan dengan nada agak tinggi menyuruh kami cari kursi yang kosong. Pramugari memberitahukan bahwa pesawat ini terdaftar penuh jadi tidak ada seat kosong lagi.
Akhirnya teman saya mengalah, dia menempati kursi paling belakang masih kosong satu. Sedangkan saya masih tetap bertahan, ingin tetap duduk sesuai dengan nomor kursi saya. Cukup lama kedua emak-emak tersebut ngeyel menyuruh saya cari kursi kosong lainnya. Pramugaripun dibuat tidak berdaya, dan hanya menjelaskan bahwa kursi sudah full. Saya tetap bertahan untuk duduk sesuai dengan nomor kursi saya. Akhirnya dengan berat hati mereka bersedia memberikan tempat duduk ke saya.
Mereka kemudian berdiri untuk memberikan jalan saya masuk. Terlihat keduanya cukup kesulitan ketika mengangkat tubuhnya, ini karena faktor usia dan postur tubuh gemuknya. Bisa jadi karena faktor kesulitan berdiri itulah yang membuat mereka enggan pindah tempat duduk. Setelah mereka kembali duduk, keduanya kemudian terlibat ngobrol seru satu sama lain. Seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa sebelumnya. Sebaliknya saya, yang duduk didekat jendela menjadi tidak begitu terasa nyaman. Padahal duduk di dekat jendela adalah tempat favorite saya. Pikiran saya jadi liar kesana kemari.” Apa ini hari kurang baik untuk pergi, atau doa saya kurang khusuk tadi pagi, atau, ah entahlah.”
Mendengar mereka asyik ngobrol saya mencoba menebak-nebak darimana mereka sebenarnya berasal. Yang jelas mereka sedang tidak berbahasa inggris, dan kelihatannya juga bukan dari jerman atau perancis. Bahasanya terdengar asing ditelingaku. Karena penasaran saya akhirnya mencoba menanyakan mereka, dengan bahasa Inggris, “Mam maaf boleh tahu anda berasal dari mana?“ Mereka menatapku, dan setelah keduanya saling pandang, kemudian yang disebelah saya menjawab singkat, “Dari Israel.“ Setelah itu mereka kembali asyik ngobrol dan tidak mempedulikan keberadaanku.
“Ah Israel.“ Gumamku, berarti sebagian besar penumpang yang memenuhi pesawat ini dari Israel, karena terlihat satu dengan yang lain akrab. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa mereka bisa ke Indonesia, padahal Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel? Mereka peroleh visa masuk Indonesia dari mana? Mengapa mereka berani datang ke Indonesia, padahal tentu mereka tahu bahwa sebagian besar Rakyat Indonesia tidak bersimpati dengan bangsa Yahudi?
Dan ada satu pertanyaan besar yang terus saya pikirkan dari kejadian tadi, yaitu apakah karakter kedua emak-emak disamping saya ini merepresntasikan watak bangsa Israel? Setidaknya ada tiga karakter yang saya catat: duduk semaunya tidak patuh mengikuti aturan (nomor kursi); menyuruh orang yang berhak (atas kursinya) untuk pindah ke tempat lainnya; dan selalu ngeyel meskipun itu salah.
Sesaat kemudian saya berpikir, kalau gambaran tersebut dianalogikan dengan perilaku kekuasaan Israel dalam konstelasi geopolitik di Timur Tengah selama ini, kelihatannya kok nyambung ya. Israel sering melanggar aturan internasional yang sudah disepakati. Dalam catatan Sejarah, Israel telah berulang kali melanggar berbagai kesepakatan dan hukum internasional terutama pelanggaran terhadap perlindungan hak-hak warga sipil.
Israel juga tidak berhenti mengintimidasi dan berambisi mengusir warga di Gaza Palestina untuk keluar dari wilayah mereka sendiri. Dan dalam hubungan diplomatik, Israel tekenal sebagai bangsa yang keras kepala, suka ngeyel dengan kamauan mereka sendiri, sulit mendengar masukan dari negara manapun, bahkan Amerikapun sebagai sekutu kuatnya juga sering diabaikan.
Tiba-tiba ada guncangan pesawat saat melewati awan. Saat itu juga saya merasakan ada hentakan kuat di kandung kemih saya. Saya baru sadar kalau mulai tadi sebenarnya saya ingin buang air kecil. Kejadian dengan emak-emak Israel tadi rupanya bisa menekan keinginan saya untuk buang air kecil. Celakanya, sekarang keinginan tersebut timbul lagi dan bahkan lebih kuat.
Saya lihat jam tangan, kurang lebih setengah jam lagi pesawat baru landing. Ada dillema soal saya mau ke toilet ini. Kalau saya sekarang pergi ke toilet, maka saya harus minta dua emak-emak disamping saya ini berdiri memberikan jalan saya. Saya bayangkan bagaimana sulitnya mereka berdiri dan sikap ngeyelnya tadi, bisa saja mereka akan protes. Tetapi kalau saya tahan tidak ke toilet, berapa lama saya bisa nahan diri?
Saya mencoba menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk bertahan tidak ke toilet. Daripada nanti terjadi konfrontasi kedua dengan mereka. Kalau toh ternyata nanti saya tidak bisa nahan lagi, ya saya akan lakukan “diplomasi dengan emak-emak” tersebut untuk memberikan jalan dan siap dengan resiko apapun yang akan saya terima.
Akhirnya pesawat landing, dan saya bisa bertahan untuk tidak memanfaatkan toilet pesawat. Perjalanan yang penuh tekanan. Tetapi akhirnya ada satu yang membuatku begitu lega, yaitu ketika akhirnya masuk ke Toilet Bandara YIA (Yogya International Airport), dan kemudian menikmati Bakpia khas Yogyakarta.