Silahkan anda searching di google dan ketik dengan kata kunci, “Pulau terpadat di dunia ada di mana?“ Maka anda akan ditunjukkan Pulau terpadat di dunia adalah Pulau Bungin, yang terletak di wilayah Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia. Pulai ini memiliki kepadatan penduduk 28.801 jiwa/km2, bandingkan dengan pulau padat lain di Indonesia, Madura misalnya, hanya 775 jiwa/km2. Uniknya jarak Pulau Bungin dengan P Sumbawa hanya sekitar 500 m. Lantas mengapa mereka memilih tinggal ’berdesakan“ di Pulau sangat kecil tersebut, sedangkan disebelahnya ada pulau besar yang sangat jarang penduduknya?
Kita akan memaklumi mengapa penduduk Pulau Bungin lebih suka tinggal di pulau kecil tersebut, salah satu penyebabnya, karena mereka berasal dari Suku Bajo. Suku Bajo terkenal sebagai kelompok etnis yang secara historis hidup berpindah-pindah di laut. Suku Bajo dikenal sebagai “pengembara laut”. Secara traditional mereka hidup di atas perahu berkelana di berbagai perarian laut di nusantara. Mata pencaharian utama mereka adalah menangkap ikan, menyelam, dan memanfaatkan sumber daya laut. Waktu hidup mereka lebih banyak dihabiskan di atas perahu dibandingkan dengan di darat.
Suku Bajo dikenal memiliki solidaritas yang sangat tinggi dengan komunitasnya. Struktur sosial relatif sederhana, tidak nampak ada kelas-kelas sosial yang mencolok, mereka menjaga entitas budaya lautnya sangat kuat, dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Contoh ketika seseorang akan menikah, mereka akan saling bantu untuk membangun rumah tinggal bagi calon mempelai.
Rumah baru dibangun di atas pondasi dari tunpukan batu karang mati. Setelah pondasi selesai, kemudian dijadikan pijakan untuk pembangunan rumah. Struktur rumah mereka berbentuk panggungg dari kayu, sebagian besar beratap seng, itulah mengapa dari udara atap rumah tampak warna-warni. Satu rumah dengan rumah lain hampir tidak berjarak, dibagian bawah rumah biasanya ada pagar bambu untuk mengandangkan ternak kambing. Ternak kambing tidak dipelihara khusus, tetapi dibiarkan lepas mencari makan sendiri.
Dimana lokasi rumah dibangun ? Terletak di sisi terluar pemukiman, di perairan laut yang dangkal. Jadi setiap seseorang menikah, maka akan bertambah satu rumah yang dibangun sisi terluar pemukiman di pulau tersebut. Tidak heran kalau kemudian luas Pulau Bungin terus bertambah dari waktu ke waktu. Maka jika ada pertanyaan tentang siapa yang paling awal menghuni Pulau Bungin? Jawabanya mudah, adalah mereka yang sekarang tinggal di bagian tengah.
Saya datang pertama kali di Pulau Bungin 40 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1986. Luas Pulau Bungin saat itu sekitar 8 ha. Pada saat itu, untuk menuju ke P Bungin melalui penyeberangan menggunakan perahu motor dari Labuhan kecil di Alas. Namun saat ini, akses menuju Pulau Bungin lebih mudah, karena sudah dibangun jalan aspal menghubungkan Pulau Sumbawa – P Bungin sepanjang 500 m.
Saat ini (2026) luas P Bungin sudah berkembang menjadi 18,5 ha. Berarti setiap tahun daratan Pulau Bungin tumbuh sebesar 35% setiap tahun. Pertanyaannya, mungkinkah suatu saat nanti Pulau Bungin akan menyatu dengan Pulau Sumbawa? Secara matematis hal tersebut bisa jadi, karena jarak kedua pulau tersebut hanya 500 m. Sehingga jika pertumbuhan luasnya linear, maka saya prediksi selama 50 tahun akan datang, daratan Pulau Bungin akan menyatu dengan Pulau Sumbawa.
Tetapi pertanyaan lain yang lebih penting adalah, maukah penduduk Pulau Bungin menyatu dengan daratan Pulau Sumbawa? Karena selama ini komunitas Bajo kental dengan sifat solidaritas etnisnya, serta menjadikan laut sebagai habitat rumah mereka?
Setidaknya pertanyaan tersegbut menarik menjadi subyek kajian sosiologi dan anthropologi tentang komuntasi Pulau Bungin. Ada yang tertarik ?
—MK—