Nama populernya adalah Masjid Tiban. Mengapa diberikan nama seperti itu, karena rumor yang berkembang Masjid ini dibangun hanya dalam waktu semalam. Tiban dalam Bahasa Jawa artinya jatuh tiba-tiba. Mirip kisah Candi Prambanan atau Candi Sewu yang diciptakan semalam oleh Bandung Bondowoso. Tapi apakah Masjid Tiban memang tercipta dalam semalam ? Setelah mengunjungi Masjid ini, saya ingin berbagi cerita tentang obyek yang unik ini. Mari kita simak fakta-faktanya.
Masjid Tiban tepatnya ada di Desa Sanan Rejo, Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Dari Kota Malang menuju Masjid ini jaraknya kurang lebih 30 km. Tempatnya ada dibelakang permukiman penduduk, sehingga Masjid ini tidak tampak jika dilihat dari jalan raya.. Untuk menuju ke Masjid tersebut kita harus melewati gang pemukiman penduduk kurang lebih sepanjang 50 m.
Memasuki gerbang masjid kita disuguhi oleh penampakan fasad bangunan masjid yang dindingnya penuh ornamen, dominan warna biru-putih, khas keramik china. Namun jika dilihat lebih dekat, oranemn tersebut, materialnya ternyata dari semen, dan dicat warna biru – putih mirip keramik. Motif ornamen berbentuk lengkungan menyerupai daun, bunga dan garis tebal melingkar, tidak eksplisit memvisualkan huruf arab. Sehingga bisa dikatakan ornamen tersebut semacam konfigurasi motif tiga negara: Arab-China-India.
Masjid ini terdiri atas 10 lantai, dan setiap lantai memiliki fungsi yang berbeda-beda. Jika dilihat dari luar, masjid ini tampak megah menjulang tinggi dengan banyak menara runcing berhiaskan ornamen warna biru—putih. Tetapi ketika kita masuk, didalamnya sama sekali tidak meenggambarkan ruangan masjid pada umumnya. Setiap lantai punya gaya arsitektur, ornamen dan fungsi yang berbeda-beda. Jika fasad luar tampak dominan warna biru-putih, kalau didalam ornament dinding dominan warna cokelat.
Di dalam masjid anda akan mendapatkan kejutan-kejutan, karena setiap lantai pemandangannya berbeda. Tidak membayangkan sebelumnya bahwa kita akan menemui benda atau obyek-obyek yang tidak “wajar“ ada di dalam masjid tersebut. Misalnya kolam renang, deretan akuarium besar berisi ikan hias, pemandangan stalaktit (batuan runcing yang menggantung di langit-langit), budidaya tanaman anggrek, bahkan juga terdapat satwa seperti monyet, kijang dan burung. Di lantai 6-7 kita seperti memasuki suasana mall Karena dilantai tersebut tempat aktivitas berniaga, menjual berbagai souvenir, pakain, dan lainnya.
Luas bangunan masjid diperkirakan 1,5 ha, berada di areal lahan seluas 8 ha,. Bangunan yang menjulang tinggi ini, sangat kontras dengan suasana sekitarnya yang kental dengan nuansa pedesaan. Menurut cerita penduduk setempat, berdirinya masjid tidak terlihat adanya lalu Lalang kendaraan berat, tidak ada terlihat ada alat-alat berat berada di dalam area masjid, tidak terdengar suara ribut layaknya pembangunan gedung-gedung besar pada umumnya, dan seperti ada keajaiban, tiba-tiba telah berdiri masjid megah dengan ornamen yang indah, menjulang tinggi dengan satu menara utama dan dikelilingi beberapa menara lebih kecil.
Karena itulah ada keyakinan yang berkembang bahwa Masjid tersebut bukan masjid biasa, tetapi merupakan masjid penciptaan, entah karena kekuatan jin atau ada kekuatan lain yang hebat, sehingga mampu menciptakan masjid secara tiba-tiba dalam semalam. Berita ini menyebar kemana-mana dan justru itulah yang menjadi salah satu daya tarik masjid tersebut, sehingga orang datang untuk mengunjunginya. Benarkah seperti itu ? Silahkan, anda boleh percaya dan boleh tidak.
Tetapi saya ingin membagikan sebuah informasi penting yang saya temui di lantai 5. Ada informasi yang disajikan pada light box (kotak kaca yang didalamnya diterangi lampu LED), yang digantung di atas jalur pengunjung. Kalau kita mendongak ke atas, ada tulisan yang cukup jelas bisa kita baca pada light box tersebut. Apa isinya ? Intinya menceritakan kronologi pembangunan masjid.
Nama sesungguhnya Masjid Tiban ternyata adalah “Pondok Pesantren Bihaaru Bahri ‘Aslaili Fadlaailir Rahmah.” Dirintis sejak tahun 1963 oleh Romo KH Ahmad Bahru Madlaludin Shaleh. Pembangunan permanen dimulai tahun 1988, dikerjakan oleh para santri pondok secara mandiri tahap demi tahap. Jika dihitung sampai dengan sekarang berarti sudah memakan waktu 37 tahun. Apakah bangunan masjid sudah selesai ? Belum.
Menurut pengamatan saya, masih banyak bangunan yang belum selesai: tembok, ornament, tangga, lantai dan lainnya. Perkiraan saya, butuh kurang lebih 30 tahun lagi bisa selesai, itupun kalau konsisten, karena untuk menyelesaikan bangunan yang “spektakuler” tersebut pasti butuh banyak anggaran. Lantas dari mana sumber anggarannya ? Saya tidak sempat mencari tahu soal itu, tetapi yang jelas bukan dari tiket masuk atau parkir kendaraan pengunjug. Karena saat saya berkunjung, tidak diminta tiket masuk, uang parkir bahkan sumbangan sukarela.
Bagi saya Masjid Tiban unik, menarik dan juga misterius. Siapapun arsitek dibalik pembangunan masjid tersebut, dia pasti seorang seniman yang punya imajinasi tinggi, berpikir terbuka, dan menguasai ilmu konstruksi bangunan dengan baik.
Bagaimana menurut pendapat anda sendiri ? Masjid Tiban ada karena penciptaan atau karena dibuat oleh manusia ?
—MK–