PERUMAHAN DI JALAN IJEN MALANG

Pagi hari (Sabtu, 2 Mei 2026), saya sempatkan jalan-jalan ke salah satu Kawasan Perumahan Elit di Malang, yaitu Perumahan di Jalan Besar Ijen atau lebih populer disebut Perumahan Ijen. Sebuah perumahan yang ikonik di Malang, karena memiliki keunikan dari aspek sejarah, arsitektur dan fungsinya. Ketika seseorang menyebutkan kata “Perumahan di Jalan Ijen“ maka yang mendengarnya cenderungan akan membayangkan sebuah kompleks perumahan mewah dengan bangunan khas peninggalan Belanda.

Ya betul, perumahan di kawasan tersebut dibangun saat pemerintahan Belanda sekitar tahun 1920-an, dirancang oleh arsitek Belanda terkenal Herman Thomas Karsten sebagai bagian dari perencanaan kota modern Malang pada saat itu. Jalan Ijen ini berbentuk boulevard atau jalan dua arah sepanjang kurang lebih 1,5 km. Di kiri kanan jalan dihiasi oleh pohon Palm Raja dan ditengahnya, sebagai pembatas jalan dihiasi rangkaian tanaman  bunga dan lampu taman ukiran khas Yogya.

Arsitektur rumah dicirikan oleh atap tinggi berbentuk limas kembar,. Dari depan tampak ada teras, sepasang jendela kamar, pintu ruang tamu dan jendela depan berbentuk setengah melingkar. Luas bangunan rumah sekitar 300 – 500 m2. Rumah tersebut berdiri di atas tanah berkisar 10 – 15 are. Hemm, bandingkan dengan luas perumahan sekarang yang hanya sekitar 1-2 are. 

Secara pribadi saya menilai arsitektur rumah terkesan antik tetapi masih relevan dengan nuansa kekinian. Rupanya orang Belanda ketika membangun infrastruktur punya visi jauh ke depan baik dari konstruksi dan arsitektur fasatnya. Sehingga bisa awet baik fisik bangunan maupun estetikanya sampai puluhan bahkan ratusan tahun.  

Saya jadi geli ketika harus membandingkan dengan perumahan yang dibangun oleh developer saat ini yang sedang menjamur di berbagai tempat. Dimana setiap developer seperti berlomba menciptakan ragam desain rumah, dan setiap tahun selalu berubah  bentuknya. Dan tidak berselang lama kemudian, model rumah tersebut tampak seperti sudah usang ditindih oleh lahirnya model baru yang instan.  

Ikon perumahan Ijen sebagai peninggalan arsitektur Belanda diperkuat oleh sebuah Bangunan Gereja yang terdapat di ujung Jalan Ijen di sebelah selatan di sisi timur. Masyarakat Malang sering menyebutnya sebagai Gereja Ijen, tetapi nama sesungguhnya adalah Gereja Katolik Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karamel, yang saat ini menjadi pusat keuskupan Malang.

Karena keunikan tersebut, Pemerintah Kota Malang sebenarnya telah menetapkan Kawasan tersebut sebagai cagar budaya. Namun saat ini beberapa rumah tampak sudah ada yang di renovasi. Suatu hal yang sudah lumrah terjadi di negeri ini tampaknya, aturan hanya berlaku di atas kertas. Pemerintah silahkan buat aturan, tetapi soal soal kepatuhan… nanti  dulu. He he.