Di bulan Juni ini, masih kita jumpai beberapa kali hujan deras. Bahkan di beberapa daerah masih terjadi banjir. Apakah ada yang aneh ? Menurut kalender musim di Indonesia, kita mengenal musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai Maret, puncak hujan terjadi pada bulan Desember-Januari, dan setelah itu mereda. Bulan April kita sudah mulai memasuki musim kemarau, bulan Juni mestinya sudah sangat sedikit hujan, dengan kelembaban udara yang rendah.
Lantas mengapa di bulan Juni ini masih sering terjadi hujan, dan apa dampaknya? Inilah yang sering kita sebut dengan perubahan iklim. Perubahan iklim ditandai antara lain dengan terjadinya anomali hujan, yang seharusnya masuk musim kemarau malah masih sering hujan, atau sebaliknya yang seharusnya musim hujan malah tidak juga turun hujan. Akibat perubahan iklim, kalender musim menjadi kacau, tidak konsisten.
“Perubahan iklim telah berpengaruh signifikan terhadap perubahan musim.“
Hal tersebut membuat ramalan datangnya hujan, bahkan oleh BMKG, sering tidak tepat, kearifan lokal yang sering kita yakini menandai datangnya musim hujan atau kemarau sering tidak sesuai. Misalnya ada keyakinan di masyarakat Lombok dan Jawa, jika burung kecial sering terlihat, atau munculnya bunyi tonggeret nyaring bersautan, atau bambu sering mengeluarkan suara gemeretak, itu menandai memasuki musim kemarau. Tanda-tanda seperti itu sekarang tidak sepenuhnya bisa dipercaya lagi.
Apa dampaknya ?
Mari kita cermati dampaknya di sektor pertanian. Pada saat selesai musim hujan dan memasuki musim kemarau, beragam jenis tanaman, khususnya buah-buahan mulai mengeluarkan semai bunga. Semai bunga ini pada kondisi normal akan berkembang menjadi pucuk bunga, terjadi proses pembuahan, kemudian akan menghasilkan buah.
Namun jika terkena hujan, semai bunga bisa berubah menjadi semai daun, yang keluar bukan lagi bunga menjadi buah, tetapi menjadi daun dan batang. Sedangkan jika sudah menjadi bakal buah, jika terjadi hujan maka buah akan rontok. Maka hujan yang tidak tepat pada musimnya akan menyebabkan kegagalan panen.
Pada kasus lain, mari kita cermati pada tanaman tembakau. Setelah tembakau di tanam (umumnya di Lombok mulai bulan April-Mei), tanaman tembakau sangat sensitif terhadap kelembaban udara. Kelembaban udaran yang tinggi dapat merusak tanaman tembakau. Kalaupun tembakau masih bisa bertahan, maka kualitas tembakau akan jauh menurun. Hujan deras di bulan Juni akan rentan beresiko terhadap kegagalan pertumbuhan tanaman tembakau karena kelembaban yang tinggi. Kegagalan tanam tembakau resikonya bisa lebih besar 3-4 kali dibandingkan tanam padi, karena tanaman tembakau butuh investasi/biaya yang jauh lebih besar.
Daya Tahan Sektor Pertanian
Di bulan Juni ini, kita telah saksikan hujan beberapa kali turun, dengan curah hujan yang cukup sampai deras. Hujan yang turun bukan pada musimnya. Kondisi ini bahkan juga terjadi pada beberapa tahun sebelumnya. Tentu ini berdampak pada sektor pertanian kita, dan petani kita yang lagi-lagi harus menanggung kerugian. Pada banyak studi menunjukkan bahwa perubahan iklim sangat berdampak pada menurunnya daya tahan sektor pertanian, tentu ini akan berimbas pada daya tahan petani kita.
Menyimak buku James C Scott, 1976. The Moral Economy of the Peasent: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia, ada satu pernyataan menarik tentang petani kita,“Bagi petani kecil, hal terburuk bukanlah tidak bisa memperbaiki nasib, melainkan kehilangan apa yang sudah dimiliki.”
Bisa diartikan lain bahwa “apa yang sudah dimiliki oleh petani kita ini sesungguhnya hanya sedikit, apalagi kalau mereka harus kehilangan yang sedikit tersebut, mereka bisa menjadi tidak punya apa-apa lagi.”
Kejadian anomali iklim, serangan hama dan penyakit, kekeringan serta banjir, adalah faktor-faktor krusial yang bisa menyebabkan kehilangan milik mereka, karena dipicu oleh perubahan iklim.
—MK–
Oleh Markum, Guru Besar Universitas Mataram, 18 Juni 2025