Setiap orang menciptakan pola pikirnya sendiri yang dibentuk berdasarkan pengalaman subjektif. Pola pikir subjektif secara kolektif akan membentuk pandangan umum dan dianggap memiliki ‘kebenaran umum’. Contoh, ketika kita melihat orang berpakaian jubah putih, memakai sorban, dan membawa tasbih, maka kita akan menyimpulkan bahwa orang tersebut adalah seorang Muslim yang sangat religius.
Kalau kita melihat orang memakai hijab dan bercadar, maka kita simpulkan orang itu adalah Muslimah. Dalam konteks lain, ketika seseorang dinilai sudah terlalu sering tidak jujur, maka kita simpulkan dia adalah seorang pembohong.
Kesimpulan subjektif yang dibentuk atas dasar kejadian yang berulang, dan menjadi pandangan umum, itulah yang disebut dengan stereotipe berpikir.
Obyek Penipuan
Pandangan umum inilah yang kemudian dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk di manipulasi. Contoh, seorang laki-laki menggunakan pakaian Muslimah bercadar dan masuk masjid ke tempat jamaah perempuan, kita tidak pernah curiga bahwa dia laki-laki. Seseorang dengan pakaian jubah putih mengaku memiliki kekuatan supranatural untuk menyembuhkan beragam penyakit, orang mudah percaya karena dia terlihat sepereti orang yang religius, sedangkan sesungguhnya pengetahuan tentang agama minim.
Mereka yang memanipulasi memiliki kecerdasan, bagaimana memanage pandangan umum untuk dimanfaatkan sebagai tindakan penipuan.
Kasus Ujazah Pak Jokowi
Stereotipe berpikir juga dapat memanipulasi diri kita. Saya contohkan kasus yang lagi hangat sekarang ini, yaitu kasus gugatan ijazah Pak Jokowi yang dituduh palsu. Bagi sebagian orang yang mengkritisi keputusan-keputusan politik Pak Jokowi selama beliau berkuasa, muncul anggapan bahwa ijazah beliau memang palsu. Mereka sudah punya stereotipe berpikir bahwa Pak Jokowi adalah orang yang pintar merekayasa sesuatu, termasuk ijazah. Apakah memang begitu kenyataannya? Bisa ya, atau tidak.
Ketika kita sudah punya stereotipe berpikir atas pandangan tertentu, dan pandangan itu sudah kita anggap sebagai kebenaran, maka kita akan semaksimal mungkin membuktikan kebenaran ‘stereotipe’ tersebut, meskipun bukti-bukti bisa saja jelas-jelas membantahnya.
Sebelum menyimpulkan sesuatu, ada baiknya memeriksa ulang keyakinan kita: apakah itu kebenaran, atau hanya stereotipe yang kita pelihara. Karena stereotipe berpikir bisa memerangkap kita untuk dimanipulasi orang atau memanipulasi diri sendiri.
—MK–