Oleh Markum
Dipandanginya wajah suaminya lekat-lekat. Wajah yang selalu menemaninya di kala senang maupun susah. Wajah yang selalu dilihatnya terakhir kali sebelum tidur, dan pertama kali ketika bangun tidur. Sungguh dia merasa sangat bersyukur memiliki suaminya, memiliki hatinya.
Dia tipe suami yang tidak pernah memberi kata-kata pujian indah, apalagi memberikan bunga, bahkan ketika isterinya sedang ulang tahun seperti hari ini. Tapi semua itu tidaklah penting, karena isterinya sepenuhnya sadar, bahwa semua jerih payah yang suaminya lakukan didedikasikan hanyalah untuk isteri dan keluarga.
Dipandanginya wajah suaminya lekat-lekat. Wajah yang selalu dia rindukan ketika tidak ada di rumah. Wajah yang begitu meneduhkan dan membimbing manakala sang isteri diselimuti kegundahan. Namun juga akan bersikap tegas manakala sudah menyangkut prinsip hidup. Kata-katanya irit, tapi dalam hatinya selalu penuh dengan doa, doa untuk kebaikan keluarganya.
Dipandanginya wajah suaminya lekat-lekat. Wajah yang saat ini sedang memejamkan matanya. Wajah yang saat ini mulutnya sedang melantunkan zikir dan doa, bersimpuh dihadapan Illahi, setelah menunaikan sholat berjamaah dengannya. Dan ketika doa itu sudah selesai, diulurkannya tangannya ke isterinya, “Selamat ulang tahun ya bu,” ucapnya sambil tersenyum. Isterinya meraih tangan suaminya, digenggamnya begitu erat, diciumnya dengan sepenuh hati. Aroma tangan yang begitu dia sukai.
Dipandanginya wajah suaminya lekat-lekat, dan digenggamnya tangan suaminya semakin erat. “Pak, terima kasih telah mencintaku, terima kasih telah menjadi imamku, sungguh saya sangat bersyukur Allah telah menganugerahkanmu untukku.” Suaminya tidak berkata-kata, kemudian direngkuhnya pundak isterinya, dicium keningnya, dipeluknya erat-erat tubuhnya, kemudian dia berbisik ditelinganya, “Sama-sama Bu, terima kasih juga telah mencintaiku.”
Kehangatan kasih dan cinta menjalar dikedua tubuh suami isteri itu.
—-ooo—