Ampenan si Kota Tua di NTB

Oleh Markum

Betulkah Ampenan memang layak disebut Kota Tua ? Jika menelisik sejarahnya, Kota Ampenan (Mataram-Lombok-NTB), bukanlah sembarang kota. Kota ini pernah mengalami masa kejayaannya sejak tahun 1920 – 1970. Pada saat itu Kota tersebut berperan sebagai pusat perdagangan di NTB, karena disinilah terletak pelabuhan utama, sebelum akhirnya pelabuhan tersebut pindah ke Lembar, tahun 1973. Beberapa foto dokumenter menunjukkan tentang aktivitas sebuah kapal sedang mengangkut sapi dan pemberangkatan jemaah haji di Pelabuhan Ampenan, itu terjadi pada tahun 1920-an. Kalau dirunut dari dokumen tersebut, tentu Kota Ampenan layak disebut Kota Tua.

Adakah buktinya sekarang ? Setidaknya ada 3 wajah konstruksi bangunan “Tempo Doeloe” yang masih dapat disaksikan saat ini. Pertama, deretan pertokoan menuju ke pantai pelabuhan, sepanjang  ± 100 m. Kedua, bekas penyangga jembatan di dermaga berupa onggokan besi yang tampak menyeruak ke permukaan air laut; dan ketiga, tangki deposit BBM berbentuk silinder besar sebagai penampung minyak kapal tanker, yang masih beroperasi sampai sekarang.

Apanya yang unik ? Memasuki gerbang utama menuju pantai, disepanjang jalan sebelah kiri dan kanan dapat kita saksikan bangunan pertokoan yang tampak sudah tua. Tuanya umur bangunan terlihat dari warnanya yang kusam dan terkesan rapuh, bahkan beberapa tampak miring. Di depan beberapa bangunan terpasang papan nama, menggambarkan identitas peruntukan bangunan tersebut pada masa lalu,  apakah sebagai toko, kedai atau penginapan.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah satu bangunan tertulis “Losmen Pabean.”  Dari namanya saja kita sudah bisa menebak, bahwa kota ini memang bekas pelabuhan. Diujung jalan sebelum masuk ke pantai ada vihara dengan warna merah mencolok yang khas.

Bagaimana dengan pantainya ? Memasuki pantai, kita disambut hangatnya udara laut dan deretan fasiltas publik yang membentang dari timur ke barat sepanjang ± 500 m. Kita bisa menikmati fatamorgana pesisir sampai ke arah Bali dan Senggigi. Juga pemandangan kapal-kapal nelayan yang sedang bersandar di pantai, suara deburan ombak yang cukup keras, ditambah dengan deretan lapak, meja dan kursi pedagang yang mengular memanjang, seperti mosaik membentang sepanjang jalan.

Soal kuliner ?  Beragam aneka masakan serta warna-warni jajanan tradisional, menebarkan aroma khas, merangsang pengunjung untuk duduk menikmati rasa kuliner sambil menatap ke arah pantai. Harga makanan cukup murah, dengan  uang 50 ribu saja, kita sudah bisa memilih beberapa jenis makanan khas Lombok, plus sudah termasuk ongkos parkir kendaraan.

—ooo—