Canda Ringan: RENCANA MASA PENSIUN

Seorang sahabat sebentar lagi memasuki usia pensiun. Saat bertemu, saya sempatkan ngobrol sama beliaunya.

 “Apa rencananya setelah pensiun pak ?” Tanyaku

“Ada sih beberapa rencana yang sudah terlintas dalam pikiran saya.”

 “Kalau boleh tahu, apa saja rencana itu pak ?”

“Saya akan mendirikan sebuah café, dengan suguhan andalan minuman kopi dari berbagai wilayah di NTB,  plus dengan makanan ringan hasil-hasil bumi lokal NTB. Niat saya kan sambil mengangkat nasib para petani, yang sering bermasalah dengan harga produksi saat panen. Paling tidak setelah ada café tersebut, saya juga punya andil untuk memasarkan produk mereka.”

“Kelihatanya mantab sekali rencana itu pak ?”

“Ya tapi setelah saya pikir-pikir, kalau punya café kan butuh energi ekstra, apalagi kalau pelangganya para millenial, biasanya mereka suka begadang. Lha saya ini kalau pensiun kan sudah umur, fisik lemah, masa harus sering begadang, nanti sangat beresiko dong dengan kesehatan saya.”

“Lha terus gimana rencana cafenya pak ?”

“Ya lebih baik saya batalkan rencana itu.”

 “Ada rencana lain pak ?”

“Ada, saya lebih baik berkebun saja, memelihara beragam jenis tanaman buah-buahan. Kelihatanya itu lebih asri dan adem untuk kesehatan. Dengan lahan kurang lebih 2 ha, saya yakin, masih punya kemampuan untuk mengelola kebun tersebut, tentu saja dengan beberapa tenaga pembantu.”

“Wah menarik itu pak, dimana lokasi kebunnya ?”

“Itulah masalahnya, kebunnya belum ada. Dan lagi kalau saya hitung-hitung tabungan yang saya punya, paling hanya dapat luas lahan paling 2 are saja, jauh dari luas yang saya butuhkan seluas 2 ha.”

“Lha terus kelanjutan rencana berkebun bagaimana pak ?”

“Ya saya batalkan juga.”

“Waduh, terus apa dong rencana yang lebih menjanjikan ?”

“Ya ada, saya mengamati perkembangan akhir-akhir ini, kelihatanya dunia multimedia lebih menjanjikan.”

“Kongkritnya apa pak ?”

“Saya punya rencana jadi youtuber.”

“Wah keren itu pak, memang bapak sudah punya pengalaman buat video   dan upload di youtube ?”

“Sudah, waktu itu saya videokan pertemuan warga di RT saya, membahas tentang menjaga ketertiban dan kenyamanan warga. Musyawarah sempat memanas, karena adanya perbedaan pendapat diantara warga. Apalagi ketika diduga ada warga yang suka nakal di lingkungan kami. Wah pokoknya seru, dan saya pikir ini menarik jadi konten youtube.”

“Wah tentu banyak views dan likenya ya pak ?”

“Setelah saya posting, saya langsung like sendiri, memancing supaya yang lain ikut like. Setelah dua jam saya buka lagi, ternyata yang like masih satu juga, dan saya klik tombol like lagi, maksud saya supaya 2 like, eh ternyata likenya malah hilang. Tapi saya lihat ada 5 views, berarti sudah ada yang tertarik nonton.”

“Sampai sekarang tentu sudah banyak views-nya ya pak ?”

“Wah video itu malah sudah saya hapus sekarang.”

“Hah, kenapa pak ?”

“ Lha saya banyak diprotes warga, katanya itu kan banyak dialog-dialog yang sensitif menimbulkan konflik dengan warga lain, kenapa diupload di youtube. Mereka sangat keberatan, dan malah mengancam saya akan dilaporkan ke polisi, karena dianggap pencemaran nama baik.”

“Tapi masih bertekad jadi youtuber kan pak ?”

“Nggaklah kapok aku.”

“Lantas apa rencana yang memang sudah matang betul pak ?”

“Akhirnya saya putuskan hidup santai di rumah bersama isteri saja, sesekali menengok anak dan cucu. Kelihatanya itu lebih menarik.”

“???… selamat dengan rencana besarnya pak.”  

Oleh Markum, Guru Besar Universitas Mataram, 23 April 2025