Sebuah Kejutan

Oleh Markum

Dia ingat betul bahwa hari ini adalah hari ulang tahun isterinya.  Isteri  yang sudah dinikahinya selama 5 tahun.  Selama pernikahannya, belum pernah dia memberikan hadiah apapun kepada isterinya pada saat hari kelahiranya.  Makanya di hari ulang tahunnya sekarang ini, dia bertekad membelikan sesuatu untuk isterinya. Dia tersenyum membayangkan wajah isterinya berbinar ketika menerima kejutan darinya.

Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat kerja, berharap ada rejeki cukup untuk mewujudkan tekadnya. Namun dalam harapan itu,  juga sekaligus bergelayut keraguan. Karena bekerja sebagai salah satu ojek online, penghasilan yang diperoleh setiap hari tidaklah tentu. Tidak jarang dia harus pulang dengan tangan hampa, manakala tidak ada satu orangpun yang memanfaatkan jasanya.

Jika sudah demikian, ada beban dua kali yang harus dia tanggung, yaitu tidak bisa memberikan uang belanja kepada isterinya, dan tidak bisa menyisihkan kewajiban untuk cicilan motornya. Maklum motor yang ia gunakan untuk ngojek adalah motor kreditan.  Baginya ngojek sebenarnya bukan pilihannya, tetapi dia tetap mensyukuri apa yang telah dilakoninya.

Kecemasannya semakin menebal ketika sampai sore hari, dia tidak mendapatkan satu penumpangpun.  Dan ketika menjelang maghrib situasinya tidak berubah, dengan putus asa dia beranjak pulang menuju ke rumah.  Ketika melewati sebuah sekolah SMP, dilihatnya ada anak perempuan duduk termangu di depan sekolahnya sambil masih mengenakan seragam sekolah . Dilihatnya sekolah sudah sepi, tinggal anak itu sendirian.  Ada rasa iba dan sekaligus penasaran yang dia rasakan, kemudian dihampirinya anak itu.  Ketika dia menanyakan,  kenapa kok sampai petang belum dijemput. Anak itu menjelaskan, dia biasanya dijemput oleh bapaknya, atau ibunya, tetapi dia juga tidak tahu kenapa sampai sekarang bapaknya belum menjemput. Ibunya sendiri saat ini sedang pergi di luar daerah.

Dia menawarkan apakah mau diantar pulang. Anak itu menggeleng, kelihatan ragu. Dia memaklumi sikap anak itu, tetapi ketika dia memberikan nomor HP nya kepadanya, untuk menghubungi jika membutuhkan bantuannya, sikap anak itu menjadi berubah.

“Tetapi saya tidak memiliki uang untuk ongkos pak.” Kata anak itu.

“Nggak usah dipikirkan itu adik, yang penting adik sekarang harus aman di rumah.” Anak itu dengan pelan naik di boncengan motornya.

Sesampai di tujuan, anak itu mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam rumah. Dia kagum melihat rumah anak itu yang terlihat indah dan mewah. Sekarang niatnya hanyalah ingin pulang. Dirogohnya saku celananya, ada uang 10 ribuan disitu. Uang yang sudah ada sejak pagi, yang sedianya digunakan untuk beli bensin. Dengan uang itu, disempatkannya mampir ke warung, membelikan lontong pelecing kesukaan isterinya. Dia jadi murung, hari ini rupanya rejeki belum berpihak ke dirinya, sehingga niatnya untuk memberikan kejutan kepada isterinya, tidak kesampaian.

Di depan pintu  rumah,  isterinya sudah menyambutnya dengan senyumnya yang khas, senyum yang dia sukai, yang selalu dia rindukan. Di kaki isterinya bergelayut anak perempuannya yang berusia 4 tahun. Hatinya berbinar dan sekaligus bergetar, melihat kedua buah hatinya itu.

“Selamat ulang tahun bu ya. Maaf, saya  nggak bisa kasih hadiah apa-apa, karena seharian bekerja belum ada rejeki untuk bisa belikan sesuatu.”  Isterinya memandang lekat-lekat ke wajah suaminya, dan senyumnya semakin melebar, kemudian dia mendekat kea rah suaminya, dipegangnya pundak suaminya dengan lembut.

“Pak, bagiku engkau adalah hadiah terbaikku yang Allah berikan  kepadaku. Aku tahu selama ini engkau telah berusaha menyayangi keluarga kita, bekerja dengan sungguh-sungguh. Rejeki jangan hanya diartikan uang saja, bagiku ketika suamiku pulang dengan sehat, memberikan senyumannya yang ikhlas, Insya Allah, itulah kebahagiaan sesungguhnya untukku. Jadi suamiku tidak usah berpikir macam-macam tentang hadiah ulang tahunku. Cinta kasihmu adalah hadiah yang selalu menyejukkan buatku.”

Dipeluknya isterinya dengan erat, sambil dia berbisik ke telinga isterinya. “Subhanallah, terima kasih isteriku, aku sungguh sangat beruntung memilikimu. Allah maha pemurah telah mengirimkanmu sebagai jodohku. Terima kasih, engkau telah menjadi isteri penyayang dan penuh pengertian.” Selanjutnya mereka hanya bisa terdiam, tenggelam pada rasa haru dan kasih yang telah menyatukan mereka selama ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara azan maghrib menggema. Ketika mereka hendak bergegas masuk ke rumah, tiba-tiba suara HP nya berdering. Dilihatnya di screen HP, tidak ada nama kontak.  Dengan enggan diterimanya panggilan tersebut.

“Assalamualaikum, apakah ini nomor  orang yang telah mengantarkan anak saya pulang sekolah tadi ?” Kata suara di seberang

Dia mengingat sebentar, dan kemudian cepat memahami situasi. “Oh betul pak, ada apa pak ?”

“Saya mau menyampaikan terima kasih telah mengantarkan anak saya, tadi saya kejebak macet di jalan waktu pulang, sehingga terlambat sampai di rumah. Saya sudah cemas memikirkan anak saya, tetapi syukurlah anda sudah membantunya.”

“Saya juga senang pak, jika saja tadi anak bapak menolak saya antar, pasti saya juga kepikiran, karena hari sudah mau gelap.”

“Maaf kalau boleh tahu, apakah pekerjaan dan pendidikan anda ?”

“ Oh saya ngojek pak, dan pernah kuliah”

“Ah kebetulan, saat ini di kantor kami sedang membutuhkan satu orang, kelihatannya ini sesuai untuk anda, saya tawarkan ini kepada anda. Kalau anda berminat dengan peluang ini, silahkan besok pagi sebelum jam 9,  anda menemui saya dirumah.”

“Tentu pak, besok pagi-pagi saya akan ke rumah bapak, terima kasih  atas tawaran dan perhatiannya.”

Dia pandangi  isterinya yang juga sedang memandangnya dengan penuh tanya. Bermacam perasaan berkecamuk dalam dirinya, jantungnya berdebar lebih kencang. Dengan suara bergetar dia berkata pada isterinya, “Isteriku, alhamdulillah, saya baru mendapat tawaran kerja dari seseorang, yang anaknya saya antar pulang tadi sore. Besok pagi saya diminta kerumahnya.”

Isterinya menatap tajam mata suaminya, seperti ingin menguji kesungguhan dari kata-kata suaminya. Tapi dia tahu, bahwa suaminya jujur. “Subhanallah, Allah telah memberikan rejeki yang tidak terduga datangnya. Pak, engkau benar-benar telah memberiku kejutan hari ini.”

—ooo—