DONOR DARAH

Malam sekitar jam 09.00  saya mendapat telepon dari seorang sahabat di Surabaya, mengabarkan bahwa adiknya sedang dirawat di rumah sakit, dan membutuhkan darah sebanyak 10 kantong untuk meningkatkan trombositnya. 10 kantong darah berarti membutuhkan 10 orang pendonor.

“Aku butuh bantuanmu, adikku sedang membutuhkan 10 kantong darah golongan O. Trombositnya sekarang hanya 60.000, dia sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit Provinsi Mataram.” Kata sahabatku dengan suara serius dan bernada penuh cemas. Trombosit turun drastis setelah adik perempuannya melakukan kemoterapi yang ke tujuh kali karena kanker.” Trombosit normal dalam darah orang sehat berada pada kisaran 150.000 – 450.000 per micro liter darah. Berarti jumlah trombosit sebesar 60.000, memang sudah termasuk sangat rendah.

Saya sendiri golongan darah O, tetapi seumur-umur saya belum pernah mendonorkan darah saya. Saya kemudian berpikir bagaimana bisa membantu  mendapatkan donor darah sebanyak 10 orang dalam waktu yang cepat. Akhirnya saya mencoba meminta bantuan melalui jejaring WAG. Saya posting info tersebut ke WAG Bimbingan skripsi, bimbingan perwalian, bimbingan KKN, WAG teman-teman alumni, teman-teman kantor. Setelah posting, kemudian dengan harap-harap cemas saya menunggu info balasan dari mereka.

Sampai jam 11 malam, ada dua mahasiswa yang menghubungi saya dan siap mendonorkan darahnya. “Saya siap membantu pak,” Katanya, menggemberikan. Yang lain komentarnya macam-macam, umumnya seperti ini: “Maaf, golongan darah saya A, B.” atau “ Saya bantu menyebarkan informasi ini ya.”

Saat emergency seperti ini, sesungguhnya yang kita tunggu adalah jawaban kongkrit, seperti berikut ini: “Saya siap membantu, dimana saya harus donor ?” Atau “Saya akan mengajak salah seorang anggota keluarga atau teman saya untuk donor, karena sesuai dengan  golongan darah yang dibutuhkan.”

Pagi hari saya cek hp, jumlah yang donor bertambah 1 orang. Namun tiga orang dari 10 orang yang dibutuhkan, jumlahnya masih sedikit. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut donor juga. Pada jam 07.30 pagi saya berangkat ke RSUP di bagian Unit Transfusi Darah. Setelah mendaftar dan cek darah, petugas menyatakan kadar trombosit saya bagus, dan layak untuk memberikan donor darah. Alhamdulillah.

Melakukan sesuatu yang pertama, selalu diliputi rasa cemas dan banyak imajinasi, seperti, apakah donor darah itu sakit ? Berapa lama proses pengambilan darah ? Apa yang terjadi dengan tubuh kita setelah darah diambil ?  Ah pokoknya penuh tanda tanya dan ketidaktahuan.

Saya memasuki ruangan transfusi darah, dan dipersilahkan duduk di sebuah kursi sofa, oleh petugas. Tangan kanan saya dililit seperti pengukur tensi, kemudian pembuluh darah di bagian lipatan siku, ditusuk dengan jarum transfusi. Darah mengalir cukup deras, melewati selang menuju kantong darah dengan volume tampung 350 cc. Sesekali petugas menanyakan,“pusing pak ? Kalau pusing kasih tahu ya.“ Mungkin karena saya baru pertama kali donor, jadi mereka perlu lebih hati-hati. Dan selama 10 menit kemudian,  proses pengambilan darah berakhir.  Selesai, itu saja. Ternyata donor darah itu mudah dan cepat. Tidak seperti yang saya cemaskan semula. Setelah donor pun, juga tidak ada efek samping ke badan, misalnya lemas ataupun pusing.

Siangnya saya mendapat khabar dari suami pasien, akhirnya jumlah pendonor sebanyak 10 orang sudah terpenuhi. Alhamdulillah, semoga Allah memberikan jalan kemudahan kesembuhan yang sedang sakit, dan keluarganya diberikan ketabahan dan kesabaran. Amiin YRA.

 

—– MK —–