Bersimpuh

Sekelumit Kisah Hidup

BERSIMPUH

Kedua kelopak matanya dibuka pelahan, dilihatnya wajah suaminya memandanginya, ada didepannya, begitu dekat. Namun wajah itu tampak kabur, matanya sudah tidak begitu jelas bisa melihat disekelilingnya. Dia hanya bisa terbaring lemah, badannya tidak bertenaga, dadanya terasa nyeri dan di pergelangan tangan kirinya melekat selang infus.

Setiap udara yang dia coba hirup, hanyalah membuat dia trauma, karena terasa seperti menusuk-nusuk, menyakitkan dadanya. Dia sudah lima hari terbaring lemah di kamar kelas tiga Rumah Sakit Umum. Dokter telah mendiagnosis dia menderita kompleksitas paru, jantung dan lambung. Baginya 5 hari di rumah sakit, adalah waktu yang begitu lama. Dia sudah sangat lelah untuk tetap bisa bertahan.

Suaminya mencoba tersenyum, tetapi senyum yang dipaksakan, karena dimatanya tampak sembab, oleh air mata. Dibelainya rambut isterinya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meremas jemari tangan kanan isterinya yang kurus dan dingin. Dengan lembut suaminya berbisik didekat telinga isterinya, “bu, ibu harus kuat ya, rumah kita menunggumu, anak-anak merindukan kehadiranmu, kami semua sungguh sangat menyayangimu.”

Isterinya tidak bereaksi apa-apa, napasnya tampak semakin terengah, matanya masih nanar memandang suaminya, namun dia berusaha menggerakkan jarinya dengan susah payah, mencoba menggenggam erat jari suaminya.

Dipandanginya wajah isterinya yang tergolek lemah. Wajah yang telihat kurus, dengan rambut kusut menjuntai di kening dan pundaknya. Dipandanginya wajah isterinya, wajah yang sebelum sakit selalu memancar keceriaan, pipi yang selalu merona memerah, dan matanya selalu berbinar saat menyambut dia pulang dari kerja. Wajah yang selalu dia rindukan.

Dielusnya pipi isterinya, dikecup keningnya dengan lembut. Ada rasa cemas dan takut yang begitu kuat menjalar memenuhi relung hati dan batinnya. Dia betul-betul begitu ketakutan, ketakutan akan kehilangan isterinya. Air matanya tak kuasa dia bendung, dan tumpah membasahi kening isterinya. Dia sesenggukan sambil mendekap tubuh isterinya yang lemah.

Dilepaskan pelukan tangannya di pundak isterinya, dia duduk bersimpuh di bawah, dan berdoa, “Ya Allah ya Robb, sungguh saya tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan untuk kesembuhan isteriku. Saya sungguh sangat menyayanginya, saya tak ingin kehilangan dia ya Allah. Jika hanya keajaiban yang bisa menyembuhkannya, mohon murahkan kehendak-MU untuk memberikan keajaiban itu demi kesembuhan isteriku.” Suaranya bergetar, air matanya terus mengalir, dan dia terus menggumamkan doa, dengan sepenuh jiwanya, dengan sepenuh hatinya.

Tulisan ini didedikasikan untuk para suami

yang setia menunggu isterinya

yang sedang sakit

 

—-MK—-