Oleh Markum
“Apakah bapak pernah menulis sebuah buku?” Tanya seorang mahasiswa dalam sebuah kesempatan ngobrol santai.
“Tentu saja, beberapa buku yang terkait dengan profesi saya, mengapa anda menanyakan hal tersebut?”
“Kalau buku terkait dengan kehutanan dan lingkungan saya sudah baca bukunya pak, maksud saya sesekali bapak menulis buku tentang yang lain, yang bisa jadi inspirasi atau memotivasi publik, yang judulnya menarik, dan mewakili keinginan masyarakat secara umum.”
“Anda punya gagasan, judulnya seperti apa misalnya ?”
Dia berpikir sejenak, sambil alisnya berkerut kencang, “misalnya, judulnya Supaya Terlihat Jujur.”
Saya terhenyak mendengar jawabanya, “Itu artinya kita mengajarkan trik-trik supaya orang yang tidak jujur terlihat jujur begitu ?”
“Kurang lebih begitu pak”
“Mengapa anda berpikir bahwa buku itu nantinya akan banyak peminatnya?”
“Saya yakin pak, karena banyak orang di negeri ini yang sesungguhnya tidak jujur dan berusaha untuk menutupi ketidakjujurannya dengan beragam cara. Ada yang berhasil dan banyak juga yang tidak berhasil. Itu bisa terjadi pada banyak hal pak, misalnya suami tidak jujur kepada isterinya dan sebaliknya, atasan yang tidak jujur pada bawaan dan sebaliknya, politikus yang sering ingkar dengan janjinya, penguasa yang sering menyalahgunakan kekuasannya, ah pokoknya banyak pak. Mereka tentu butuh alibi pak, trik-trik, atau strategi supaya kebohongan, kesalahan, ketidakjujuran mereka tidak terlihat.”
“Waduh berat sekali kalau mengikuti saran anda itu.”
“Saya yakin buku bapak akan booming, mengalahkan buku Harry Potter karyanya J.K. Rowling.”
“He he, untuk menulis buku seperti itu, harus didukung kemampuan yang tidak sedikit, setidaknya harus paham soal psikologi, strategi komunikasi yang baik, banyak memiliki referensi kasus-kasus sosial, dan kriminal, dan tidak kalah penting memiliki pengalaman mengaktualisasikan jujur dari ketidakjujuran.”
“Betul pak.”
“Memang anda pikir saya punya kemampuan untuk itu ?”
“Dicoba saja pak.”
Saya hanya terdiam dan pikiran melayang ke ruang liar, membayangkan bagaimana orang-orang berusaha meyakinkan orang lain bahwa dirinya jujur dengan kebohongan yang ia lakukan. Dan Saya harus menjadi bagian untuk mengajari mereka, bagaimana kebohongan yang mereka lakukan supaya terlihat lebih jujur lagi. Waduh sungguh saya tidak sanggup menerima tantangan itu.”
“Pak !”tiba-tiba suaranya memecah lamunanku. “Boleh saya bertanya sedikit personal ke Bapak ?”
“Ya silahkan. ”
“Apakah bapak termasuk orang jujur ?”
Pertanyaan yang tentu saja tidak saya duga. Saya lihat matanya dan dia sedang manatap tajam kearahku. Rupanya dia sungguh-sungguh ingin mendengar jawabanku. Saya berpikir sejenak. “Saya akan jawab pertanyaanmu minimal seperempat jam lagi ya.”
“Mengapa pak?”
“Supaya jawabanku terlihat jujur.”
—ooo—