Hutan, Kemiri dan Minat Petani

Oleh Markum

Siapa sih yang tidak kenal dengan kemiri ? Ibu-ibu pasti sangat akrab dengan buah ini, karena dialah salah satu penghuni dapur yang paling konsisten, yang membuat masakan terasa lebih lezat dan membuat tekstur masakan berkuah lebih kental dan sedikit berminyak. Bukan hanya itu, kemiri juga memiliki khasiat beragam untuk kesehatan dan pemeliharaan kecantikan. Katakanlah ekstrak minyak kemiri memiliki khasiat menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala, menjaga kelembaban kulit, menyembuhkan luka, dan lainnya. Tidak heran jika pasar untuk produk kemiri terbuka luas.

Buah kemiri yang baik tidak dipanen di pohon, tetapi menunggu jatuh di tanah. Biasanya panen kemiri dilakukan berselang 3-4 kali setahun. Buah kemiri yang masih utuh memiliki 3 bagian, yaitu daging buah, tempurung, dan biji kemiri. Buah kemiri yang sudah dibersihkan daging buah dan tempurungnya disebut oce. Oce atau biji kemiri inilah yang memiliki beragam manfaat, termasuk untuk bumbu masakan. Tempurung kemiri sendiri juga sangat baik sebagai bahan bakar, karena memiliki kalori yang tinggi.

Tanaman kemiri bukan hanya bermanfaat secara  ekonomi, tetapi juga bagus untuk tanaman  konservasi. Oleh karena itu saat ini tanaman tersebut sedang digadang-gadang sebagai tanaman penyelamat hutan, mengapa demikian ? Karena beberapa alasan antara lain: perakarannya kuat mencengkeram tanah, pertumbuhannya yang cepat dan memiliki sebaran tumbuh toleran pada berbagai ketinggian tempat. Satu lagi, ketika banyak tanaman buah-buahan rentan terhadap perubahan iklim, tanaman kemiri telah teruji tidak terpengaruh oleh dampak perubahan iklim.

Terus bagaimana minat petani sendiri untuk menanam kemiri ? Sayangnya petani kurang bersemangat terhadap tanaman kemiri. Beberapa kawasan hutan yang dulunya penuh dengan tanaman kemiri seperti Hutan Sesaot di Lombok Barat, Hutan Parado di Bima, saat ini populasi tanaman kemiri tinggal sedikit. Kenapa demikian ?  Selain tanaman kemiri kalah pamor dengan pohon buah-buahan, alasan lain petani adalah tanaman kemiri tidak toleran terhadap pertumbuhan tanaman dibawahnya seperti pisang, kopi, cokelat, pepaya dan lainnya.

Jadi tantangan terbesar menjadikan tanaman kemiri sebagai penyelemat hutan adalah bagaimana meyakinkan petani terlebih dahulu, bahwa kemiri memang layak untuk ditanam, tidak hanya untuk menyelematkan hutan, tetapi juga menyelamatkan ekonomi keluarga petani.

—-oMo—-