REUNI: SELALU ADA CERITA TENTANG TEMAN

Membayangkan bertemu kembali dengan kawan-kawan semasa kuliah dulu, rasanya tiba-tiba kok seperti muda kembali. Ketika mengingat masa itu, tepatnya 40 tahun yang lalu, tiba-tiba bermunculan kembali berbagai memory tentang kehidupan di kampus yang suasananya tentu sangat berbeda dengan sekarang.

Mahasiswa Jadul

Saat itu, masih sangat jarang mahasiswa yang punya sepeda motor, sebagian besar mahasiswa kalau ke kampus jalan kaki atau naik angkot. Komunikasi telepon menggunakan jasa wartel, atau telegram. Bagi yang kos kalau menanak nasi pakai kompor minyak, penjual nasi kaputan belum ada. Membuat skripsi harus pakai mesin ketik brother yang suaranya seperti burung pelatuk. Bahan ujian semester masih digandakan dengan stensil, hiburan favourite ? Hemm, rajin dengar radio, yang sering menyiarkan drama bersambung saur sepuh.

Bagaimana kalau ingin konsultasi skripsi ? Wah, saat itu tidak bisa mengbungi dosen lewat telepon seperti sekarang. Sehingga harus sabar nunggu di depan ruangan dosen, dan kalaupun dosen ada di tempat, yang mau konsultasi antrianya panjang. Cari buku dan jurnal untuk referensi ? Harus rajin ke perpustakaan. Kiriman uang dari orangtua ? Pakai wesel pos, menunggu 5-7 hari baru datang. Betul-betul zaman yang serba manual, dan serba bergerak secara fisik.

Waktu 40 tahun bukanlah masa yang pendek. Tentu banyak sekali yang sudah berubah. Maka tidak  heran kalau kemudian banyak pertanyaan yang ingin kita tahu dari teman-teman kita, seperti: apakah mereka masih sehat? Apa pekerjaan mereka? Bagaimana wajah mereka saat ini? Apakah saya masih mengenalinya? Berapa anak mereka? Siapa jodohnya? Sukseskah mereka? Dan sebagainya. Ah pasti kita akan jadi orang Kepo (kepingin banyak tahu tentang orang lain) saat menghadiri acara reuini.  

Bantuan Teman

Sekarang ini kami bertujuh sedang berkumpul, mendiskusikan rencana acara reuni tersebut. Diskusi membahas seputar rencana kegiatan, berapa lama waktu reuni, kemana saja acaranya, dan akhirnya selalu berujung pada soal berapa kebutuhan biaya.  Jumlah yang mendaftar ikut reuni sebanyak 65 orang. Dana yang terkumpul dari peserta sebanyak Rp 18 juta, sedangkan kebutuhan anggaran total sebanyak Rp 33 juta, jadi masih lumayan banyak kurangnya. Malah kalau harus dihitung dengan biaya menginap, total sekitar Rp 44 juta.

Bagaimana mengatasi kekurangan ini ? Panitia sepakat untuk menghubungi seorang teman. Seorang yang telah sukses dengan usahanya, dimana reuni sebelumnya dia memberikan sumbangan yang paling besar. Kemudian ketua panitia, mencoba menghubungi teman tersebut. Diakhir pembicaraan telepon kami sempat dengar dialognya.

“Jadi kurang berapa semuanya ?“ terdengar suara teman di seberang  

”Kurang dua puluh enam juta bro, termasuk estimasi biaya menginapnya.”

”Oke, kekurangan siap saya tanggung.” Katanya enteng meyakinkan.

Wajah kami sumringah semua, beruntung kami punya teman seangkatan yang begitu dermawan. Nyumbang 26 juta begitu ringannya. Urusan biaya reuni sudah beres, jadi panitia tinggal fokus mengorganisir pelaksanaan kegiatan di hari H nanti.

Keakraban Reuni

Angkatan Faperta 83 kurang lebih ada sebanyak 100 orang. Sebanyak 60 orang alumni hadir pada  acara puncak perayaan Dies Natalis di kampus. Menurut catatan teman-teman ada sebanyak 23 teman yang sudah almarhum/almarhumah. Berarti ada kurang lebih sebanyak 17 orang yang tidak bisa hadir.  Jika menyadari sudah begitu banyak kawan yang mendahului kita, terasa bahwa usia ini sudah semakin menua.

Namun ketika kita bertemu dengan teman-teman lama, seperti saat reuni ini, suasana hati seperti kembali ke zaman muda lagi. Zaman saat masa mahasiswa dulu. Panggilan antar teman tidak berubah seperti saat mahasiswa, saling sebut nama saja, tidak ada panggilan bapak, ibu mas dan sebagainya. Hal ini yang membuat situasi cair, seperti tidak ada sekat, dan tentu saja tidak bisa dihindari kemudian suasana menjadi riuh saling ledek, saling nge-prank satu sama lainnya.

Malam hari diselenggarakan  acara temu dinner disalah satu hotel di Mataram. Suasana kembali heboh, diiringi live music keyboard, acara diisi dengan nyanyi, saling berpantun, cerita-cerita lucu masa lalu, dan berjoged ria. Ah, sungguh kami larut dalam suasana kegembiraan. Dan kembali saling ledek, saling nge-prank tidak bisa dihindari, menciptakan suasana tambah ramai dengan gelak tawa.  

Saya duduk di bangku deretan kedua disebelah utara. Ruangan telah disetting dimana kursi ditempatkan di dua sisi saling berhadapan sebelah utara dan selatan, sedangkan ditengah adalah ruang acara/pentas. Maka pandangan saya jadi leluasa mengamati setiap sisi teman-teman yang duduk disebelah kiri kanan dan diseberang sebelah Selatan yang berhadapan dengan saya. Saya mencoba mengamati teman-teman satu persatu, mereka terlihat happy semua.

Masing-masing Punya Karakter

Pandangan saya pertama tertuju pada teman yang terlihat paling aktif. Sosoknya tidak banyak berubah  sejak mahasiswa dulu, perawakan tubuhnya agak ramping dan berisi. Dia aktif memegang microphon dan memberikan arahan-arahan dan instruksi kepada teman-teman disertai dengan senyumnya yang khas. Instruksinya runut, mudah dipahami, suaranya bagus dan berwibawa.  Dialah ketua alumni, yang sangat aktif memobilisasi teman-teman pada even-even penting.  Tidak hanya kegiatan reuni, tetapi dia aktif mengajak silaturahmi kepada teman-teman yang lagi kesusahan ataupun sedang punya hajatan. Saya akui, passion leadershipnya  menonjol, tidak heran kalau dia sukses sebagai bos disalah satu perusahaan supllier tembakau di Lombok ini. Dan juga tidak heran, kalau teman-teman menghendaki dia selalu menjadi ketua alumni, bahkan kalau perlu seumur hidup. Karena telah terbukti sukses memimpin alumni.

Kemudian pandangan saya beralih ke teman yang masih terlihat imut dan gagah meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Saat mahasiswa dulu, saya kenal dia paling aktif mengikuti kegiatan pencinta lingkungan. Dan kelihatannya perilaku mencintai lingkungan masih melekat sampai sekarang, karena dia saya lihat begitu sigap memungut sampah yang dibuang sembarangan. Karirnya adalah menjadi kepala bidang di salah satu dinas di Kabupten Lombok Barat. Penampilannya Humble, rendah hati, sehingga mudah akrab dengan siapapun. Dialah yang saat ini menjadi ketua panitia acara reuni. Penilaian saya selama dia sebagai ketua, dia sangat rinci dan detail dalam mempersiapkan sesuatunya. Maka tidak heran kalau acara reuni kali ini sukses. Dan karena kesuksesan inilah, maka dia sudah digadang-gadang sebagai calon kuat yang akan menggantikan ketua alumni sekarang.   

Si Pendiam dan Si Gemoi

Duduk disamping kanan saya, seorang teman yang dulu waktu kuliah sering diskusi dengan saya. Waktu mahasiswa saya mendirikan klub diskusi namanya Kelompok Diskusi Mandalika. Setiap ada materi kuliah yang sulit, kami akan bertemu untuk mendiskusikannya. Jika ada teman yang mau seminar, kami bertemu untuk membahasnya. Jumlah anggota kelompok diskusi tidak banyak, hanya sekitar 12 orang, dan setiap minggu pasti mengadakan acara pertemuan diskusi. Teman satu ini termasuk yang aktif hadir acara diskusi. Saat mahasiswa dia ini jago membuat kaligrafi, bahkan juga melukis. Pernah dia menawari untuk melukis saya, tetapi saya tolak. Bukan karena saya meragukan kemampuan dia melukis, tetapi karena saya tahu diri, profil saya nggak menarik untuk dilukis. Saat mahasiswa dia termasuk pendiam, setelah menua, saya lihat malah lebih pendiam lagi.  Karirnya pernah menduduki jabatan Direktur PDAM, dan setelah itu menjadi anggota DPRD Lombok Timur.

Suara ribut-ribut ditengah mengganggu konsentrasi saya, terpaksa saya mengalihkan perhatian kearah sumber keributan tersebut. Saya lihat ada seorang kawan posturnya gemoi sedang bersemangat berjoged, diiringi musik dangdut. Gerakan jogednya yang memutar-mutar perutnya dan menggoyang-goyang pantatnya yang montok terasa sangat menghibur. Tidak hanya itu saja, dia juga menarik isterinya ke tengah, yang mau nggak mau, harus mengikuti irama jogednya yang rumit itu. Suami isteri ini adalah kawan saya yang keduanya sukses mencapai gelar profesornya, dan bisa dibilang pasangan yang serasi. Pacaran sejak mahasiswa, lalu menikah dan keduanya melanjutkan studi bersama ke Australia. Kemana-mana selalu berdua, maka sulit rasanya satu diantara mereka bisa berdusta, apalagi selingkuh, karena kontrolnya sama-sama kuat. Konon ceritanya, mengajar dikelaspun mereka harus selalu berdua. Malam ini, merekalah yang menjadi bintang, jadi pusat perhatian dengan jogednya yang heboh.

Yang Gesit dan Yang Ramah

Disebelah kiri deretan kursi saya bagian depan, duduk 2 perempuan yang masih terlihat aura cantiknya, apalagi kalau dilihat dalam suasana lampu temaram seperti sekarang. Mungkin orang tidak akan menyangka kalau mereka sekarang berusia enampuluhan tahun, orang bisa saja menduga umur mereka ya sekitar 58 tahunan. Satu orang yang saya kenal betul adalah, dia yang punya postur kecil dan berkulit putih. Dulu waktu mahasiswa posturnya memang kecil semampai, dan sekarang, malah terlihat lebih kecil lagi. Dia ini jago lari, dan sering nyalip saya, ketika saya sedang jalan di udayana. Kecepatan larinya luar biasa, senyap, bekelebat lalu lenyap seperti ditelan angin. Kabarnya, sudah banyak medali yang diraih, memenuhi lemarinya, terutama menang lomba marathon untuk usia Manula.  

Perempuan yang satunya, orangnya murah senyum, bahkan tidak ada orangpun dia sering senyum-senyum sendiri. Suaranya bagus, saya sangat suka mendengarnya kalau dia menyanyi, mirip-mirip suara Keris Adayanti. Sejak suaminya almarhum, yang anggota DPRD Provinsi NTB, dia menjadi perempuan yang sangat mandiri, memiliki usaha dagang menjual berbagai macam kebutuhan sandang, pangan dan papan. Penampilanya yang lembut dan murah senyum itulah, yang membuat teman-teman tidak sungkan untuk meledek dan mengganggunya. Termasuk saya yang secara khusus telah membuatkan pantun untuknya.

Orang Malang yang Beruntung

Duduk dibelakang saya dua orang laki-laki dari Malang. Kawan yang satu, dulu saat mahasiswa sering mengajak saya renang ke Kolam Narmada. Kalau masuk ke kolam renang sama dia, tidak pernah bayar, gratis. Maklum dia tahu persis jalan masuk ke kolam situ melalui gang-gang kecil, nyerobot pagar untuk mengelabuhi petugas. Sekarang dia tinggal di Gondang Legi Malang, menekuni kegiatannya sebagai Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Mudahan dia segera mendapatkan jodohnya, karena statusnya saat ini single parent. Kelihatannya kalau pedagang berjodoh dengan sesama pedagang kok ya cocok gitu.

Sedangkan teman asal Malang yang satunya, dia termasuk laki-laki yang beruntung, karena belum lama ini dia menikah dengan seorang dokter gigi sekaligus sebagai pejabat penting di salah satu rumah sakit di Sampang Madura. Sejak menikah, teman ini wajahnya terlihat lebih sumringah, menandakan dia sangat happy dengan pernikahannya. Bagaimana dia bisa bertemu dengan isterinya sekarang ? Ya tentu saja tidak heran, karena dia ini pengusaha pengadaan beragam sarana kesehatan. Dulu isterinya nampaknya selalu jadi target jualanya, dan dia bukan hanya berhasil menerima tawaran usahanya, tetapi juga menerima tawaran cintanya.

Juragan Tambak Sumbawa

Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak saya, dia segera menyalami saya dengan kuat, dan menyapa dengan sangat ramah. Oh ternyata dia si juragan tambak dari Sumbawa. Dia bercerita bahwa sekarang sedang memperluas usaha tambaknya dengan ekstensi tambak seluas 6 ha. Dia berharap saat saya atau teman-teman ke Sumbawa bisa mampir ke rumahnya di Utan. Saat ini dia telah memiliki 6 kamar bungalow yang siap menerima kawan-kawan menginap disana gratis. Tentu senang mendengar berita baik dari orang baik seperti dia.  

Yang Cool dan Yang Humoris

Pandangan saya kemudian melekat pada satu orang kawan, yang sebelumnya telah menggugah empati dengan mengajak semua teman yang hadir untuk memanjatkan doa bagi teman-teman yang sudah almarhum/almarhumah. Dengan sabar dia menyebutkan nama-nama teman yang sudah mendahului kita satu-persatu, sehingga membuat suasana menjadi lebih sakral dan penuh haru. Doa yang disampaikan begitu menyentuh. Semoga almarhum/almarhumah diterima segala amal ibadahnya dan diampuni kesalahannya. Aminn. Teman yang satu ini punya bakat bermain musik dan suara yang handal. Jika saja dia tidak diterima sebagai ASN, saya yakin dia sudah populer menjadi diva pemusik, sekelas Ariel Noah.

Dan satu lagi teman, yang setiap dia hadir akan memecahkan kebekauan, karena dia ini humoris, tidak pernah kehabisan lelucon, dan kalau dia bicara selalu diikuti dengan tertawa. Sehingga membuat setiap orang yang diledek tidak akan pernah marah atau tersinggung. Dia ini saya nilai salah satu orang yang paling jujur diantara alumni yang lain. Mengapa ? Karena ketika yang lain berusaha tampil dengan menutupi warna rambut aslinya, dia ini dengan gagah berani tampil dengan rambut warna putihnya. Seperti kisah Pendekar Super Sakti, Suma Han, pendekar sakti dari kepulauan es di china, yang memiliki ciri khas rambut putihnya. Dia saya anggap juga sebagai seorang pendekar dari Bali yang sangat super dalam mengelola usaha agro-creativenya.

Tidak Bergelar Tetapi Berhasil

Selalu ada cerita tentang seorang teman, karena setiap teman pasti ada yang spesial. Seperti kawan kita yang satu ini. Dia saya anggap sangat special. Sejak mahasiswa dia ini selalu rajin berusaha. Jadi kalau temannya rajin membaca buku, cari ilmu supaya dapat nilai yang baik, dia ini rajin membaca peluang usaha, mencari duit, supaya dapat keuntungan yang tinggi. Usahanya yang saya tahu dimulai dengan mengelola kantin asrama mahasiswa. Barangkali karena saking asyiknya menjadi wirausaha, sampai-sampai dia tidak selesai kuliahnya alias DO (Drop Out). Jadi dialah satu-satunya alumni yang hadir pada acara reuni ini, yang tidak bisa ikut yudisium apalagi wisuda, alias tidak bergelar Insinyur.

Beberapa tahun setelah saya lulus, saya ketemu dia, menjadi pedagang kelontong di Pasar Ampenan, bersama dengan isterinya seorang Tiongha yang cantik. Saya sebenarnya heran, bagaimana perempuan cantik itu mau sama dia, yang nilai ketampanannya bisa dibilang rata-rata (?). Ah barangkali karena dia termasuk orang yang ulet ya, itu barangkali yang menjadi daya tarik bagi komunitas Tiongha, yang suka bekerja keras, sehingga mau menerimanya.

Penyandang Dana Utama

Dialah yang menjadi penyandang dana utama kegiatan reuni ini, bukan hanya kali ini, tetapi juga reuni sebelumnya. Rupanya setelah berjibaku dengan usahanya di Lombok, dia pindah ke Surabaya, dan merintis usaha yang lebih menjanjikan di sana. Saat ini dia punya usaha distributor ayam pedaging, mensuplai jaringan pasarnya di Jawa dan di luar Jawa. Sukses dia bisa dilihat dari volume usahanya tidak kurang dari 1 M setiap hari. Untuk listrik saja, dia mengeluarkan biaya sampai 350 juta per bulan.

Kebaikanya tidak diragukan, setiap tahun dia selalu memberangkatkan karyawannya umroh, membantu usaha-usaha kecil yang baru tumbuh, merekrut teman-teman seangkatan sebagai karyawan di perusahaannya, dan kita sudah tahu, bagaimana dengan ringannya dia membantu membiayai reuni ini. Dia tidak punya gelar, tetapi dia punya visi yang jelas, dia punya empati, dia punya insting berusaha. Dan dia berhasil, dia sukses. Dia berhasil meskipun tanpa gelar.

Saya pernah bertaruh dengan dia, jika saja saya disandingkan sama dia, dan kemudian berdiri dihadapan mahasiswa, saya yakin mahasiswa akan lebih memilih seperti dia, menjadi pengusaha yang sukses, daripada menjadi seorang profesor, yang terlihat keren, tetapi duitnya tidak seberapa.

Saya sungguh menikmati reuni kali ini, suasananya penuh keakraban, tidak ada batas tinggi dan rendah, semua melebur menjadi kita, tidak ada aku dan mereka. Kalau biasanya ada keluhan reuni menjadi ajang flexing, yang berhasil ingin lebih terlihat menonjol, yang tidak berhasil menjadi minder, hal itu sama sekali tidak saya rasakan di reuni Faperta 83.

Semoga reuni akan datang lebih seru dan heboh lagi. Faperta 83 memang selalu dihati.

— ooo —

Oleh Markum, Guru Besar Universitas Mataram, 28 Januari 2025