Empat Kali Gagal Berjodoh

Oleh Markum

Kalau soal penampilan dan paras wajah,  skornya lumayan tinggilah, kisaran 85, atau di atas rata-rata.  Selain itu dia juga sudah punya pekerjaan tetap.Tetapi entah kenapa teman saya perempuan yang satu ini sampai saat ini belum punya jodoh. Umurnya sekarang sudah beranjak 35 tahun.

“Kelihatan tambah segar dan sehat saja mbak, kapan ini saya dapat undangan nikahannya ?” Tanya saya, to the point saja, ketika bertemu dengannya.

“Wah belum pak, entahlah soal yang satu ini saya kelihatanya termasuk manusia yang kurang beruntung.”

“Kenapa begitu, apakah memang selama ini belum pernah ada yang pdkt (pendekatan), atau mbaknya memang yang terlalu defensif terhadap laki-laki ?”

“Pernah sih pak saya tertarik dengan  seseorang, sudah empat kali malah. Tapi semuanya nggak berjalan mulus, gagal total.”

“Apa penyebabnya ?”

“Yang pertama saya pernah pacaran dengan seorang pemuda, ya lumayanlah, tampang boleh, supel. Tetapi sayangnya dia itu pelitnya minta ampun. Masak setiap makan bareng di luar, saya selalu yang harus bayar, padahal dia yang ngajak. Ada saja alasan untuk tidak mau bayar, yang dompet ketinggalan,  belum gajian, eh macam-macamlah. Pernah saat pergi berdua, dan motornya kehabisan bensin di jalan, saya juga yang disuruh bayar bensin.  Jadi selama dekat dengan saya kurang lebih 2 bulan, belum pernah satu rupiahpun dia membelikan sesuatu ke saya. Akhirnya dari pada makan hati terus, ya putus.”

“Lha kalau yang kedua ?”

“Yang kedua orangnya cakep minta ampun, penampilan selalu trendy, dia sangat memperhatikan keserasian penampilan. Bagaimana kombinasi warna baju, celana, sepatu, supaya serasi, dia sangat teliti soal itu. Parfum yang dia gunakan juga sangat soft dan menggoda. Wah pokoknya kalau sedang  sama dia, pasti cewe yang lain akan merasa iri dengan saya.”

“Tetapi sayang kandas juga ya, apa penyebabnya ?”

“Ternyata dia gay pak.”

“Hemmm, pantas dia pesolek ya. Kalau yang ketiga bagaimana ?”

“Yang ketiga orangnya baik sekali pak, penampilan dewasa, sudah mapan lagi. Pokoknya menurut saya laki-laki idamanlah.”

“Terus kenapa tidak jadian ?”

“Masalahnya dia sudah punya isteri pak.”

“Walah, begitu ya. Kalau yang keempat bagaimana ?”

“Yang keempat ini saya sudah berpacaran kurang lebih 6 bulan. Dia orangnya lumayan sibuk, penghasilan okelah, dan dia itu sangat supel pergaulannya, temannya banyaak sekali. Bahkan beberapa kali ngapel ke rumah, dia juga bawa teman-temannya satu mobil penuh. Rame dan ribuut pokoknya.”

“Lantas apa masalahnya sampai endingnya tidak sampai ke jenjang pernikahan, apa soal rame dan ribut tadi ?”

“Bukan pak, wah dia itu suka ngobral janji. Termasuk ketika saya tanya ketegasan soal hubungan kami, dia hanya janji-janji melulu, tanpa ada kepastian. Ya daripada nggak jelas, akhirnya kami sudahi saja hubungan tersebut.”

“Wah sayang ya, suda empat kali gagal dalam menjalin hubungan. Kalau boleh tahu nih mbak, sebenarnya tipe laki-laki seperti apa sih yang diharapkan sebagai suami mbaknya  kelak ?”

“ Wah kalau soal tipe laki-laki, saya sebenarnya nggak neko-neko kok pak. Yang penting laki-laki tersebut bertanggungjawab titik.

“Yakin cuma itu saja syaratnya ?”

“Ya kalau saya hurus jujur, ada sih sedikit tambahan kriteria, antara lain: umur tidak lebih 40 tahun, tinggi badan minimal 170, berat badan tidak lebih 65 kg, warna kulit kuning langsat, wajah memikat, punya pekerjaan tetap dengan gaji lumayan, kalau nikah maunya sudah ada rumah dan mobil, tidak pelit, sangat perhatian sama keluarga, dan penyabar, itu saja pak.”

“Ihh ……!!!”

—ooo—