BELAJAR MENGELOLA PENDIDIKAN JARAK JAUH DARI UNIVERSITAS TERBUKA: Bisakah diterapkan di Unram ?

Universitas Terbuka (UT) telah membuktikan selama 42 puluhan tahun dapat menjangkau pendidkkan kepada siapa saja tanpa harus bergantung pada ruang kelas fisik. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah pembelajaran jarak jauh itu mungkin, tetapi bagaimana perguruan tinggi non UT termasuk Universitas Mataram, siap belajar, beradaptasi, dan memodifikasi diri untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut. Rektor Unram telah menghadirkan Rektor UT pada 9 Februari 2026 dalam sebuah sesi berbagi (sharing session) bagi Unram yang saat ini mulai mengembangkan pembelajaran online. Tulisan ini mencoba membedah pelajaran penting dari sistem pendidikan jarak jauh UT, sekaligus menimbang peluang dan prasyarat penerapannya di Unram secara realistis dan strategis, berdasarkan hasil sharing session tersebut.

Sekilas Sistem Pendidikan Jarak Jauh di UT

Jauh sebelum lahirnya media digital seperti sekarang, tepatnya sejak tahun 1984, Universitas Terbuka (UT) telah memulai penyelenggaraan sistem pendidikan jarak jauh di Indonesia. Saat ini jumlah mahasiswa UT tercatat mencapai sekitar 768.248 orang, jauh melampaui jumlah mahasiswa di universitas mana pun di Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana UT mampu tetap eksis hingga sekarang, bahkan terus berkembang? Tentu di balik capaian tersebut terdapat sistem yang kuat dan terstruktur yang menopangnya.

Lahirnya pendidikan jarak jauh yang dimotori UT dilandasi oleh keinginan kuat untuk mengurangi kesenjangan akses pendidikan tinggi, khususnya bagi masyarakat di wilayah terisolasi maupun mereka yang tidak dapat mengikuti pendidikan tinggi formal secara konvensional. Konsep pendidikan jarak jauh yang dikembangkan UT menekankan pada kemandirian belajar mahasiswa, dengan penggunaan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran tatap muka secara daring hanyalah salah satu metode yang digunakan, bukan satu-satunya pendekatan.

Dalam sistem pendidikan jarak jauh, tidak ada keharusan tatap muka rutin, tidak berbasis absensi kehadiran, dan relatif lebih fleksibel dalam batas waktu studi. Mahasiswa bahkan dapat menempuh pendidikan dalam rentang waktu yang sangat panjang, hingga belasan atau puluhan tahun sesuai kemampuan dan ritme belajarnya. Salah satu kekuatan utama sistem pendidikan UT ditopang oleh ketersediaan sumber belajar mandiri berupa modul yang disusun secara komprehensif dan dirancang khusus untuk pembelajaran jarak jauh.

Bisakah Sistem pendidikan Jarak Jauh UT diterapkan di Unram ?

Jawabannya: bisa, tetapi dengan modifikasi. Model pendidikan jarak jauh yang diterapkan oleh Universitas Terbuka memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi, baik dalam penggunaan teknologi, metode pembelajaran, maupun pengaturan waktu belajar. Konsep tersebut memang berbeda dengan sistem pendidikan di universitas pada umumnya yang telah memiliki kerangka legal, struktur kurikulum, serta standar proses pembelajaran tersendiri.

Karena itu, pendekatan yang paling realistis bukanlah mengadopsi sistem pendidikan jarak jauh UT secara utuh, melainkan memodifikasinya menjadi sistem pembelajaran jarak jauh atau lebih spesifik lagi pembelajaran daring. Di sinilah letak perbedaan pentingnya.

Pembelajaran daring menekankan pada metode penyampaian pembelajaran dari jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital, tetapi tetap berpedoman pada kebijakan kurikulum dan regulasi akademik yang berlaku di universitas. Dengan demikian, unsur-unsur utama pendidikan formal tetap dipertahankan, seperti kewajiban mengikuti perkuliahan terjadwal, pencatatan kehadiran, sistem evaluasi pembelajaran, serta batas masa studi (misalnya maksimal tujuh tahun untuk program sarjana).

Prinsip dasarnya, pembelajaran daring bukanlah mengganti sistem pendidikan, melainkan mentransformasikan pembelajaran tatap muka di kelas menjadi pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi komunikasi digital, dengan tetap menjaga standar mutu akademik.

Apa yang perlu dipersiapkan oleh Unram ?

Dalam sesi diskusi, saya mengajukan pertanyaan kepada Rektor Universitas Terbuka, Ali Muktiyanto, “Apa yang perlu dipersiapkan oleh Unram untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh sesuai dengan koridor kebijakan yang ada?” Beliau menjelaskan bahwa terdapat sejumlah prasyarat strategis yang harus disiapkan agar implementasi pembelajaran jarak jauh tidak hanya berjalan, tetapi juga taat regulasi dan terjamin mutunya. Persiapan pertama adalah ketersediaan legalitas atau payung kebijakan di tingkat universitas, minimal dalam bentuk Keputusan Rektor tentang penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh, yang dilengkapi dengan pedoman teknis operasional sebagai acuan implementasi.

Kedua, diperlukan unit khusus di tingkat universitas yang menangani penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh, misalnya dalam bentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau pusat layanan pembelajaran digital. Unit ini berfungsi sebagai pengampu sistem, pengembang standar, sekaligus pengendali mutu pelaksanaan pembelajaran daring. Ketiga, kesiapan infrastruktur teknologi menjadi faktor kunci, terutama ketersediaan jaringan komunikasi digital dengan bandwidth yang memadai, server yang stabil, serta platform Learning Management System (LMS) yang andal. Tanpa fondasi infrastruktur yang kuat, pembelajaran jarak jauh akan mudah terganggu dan menurunkan kualitas pengalaman belajar mahasiswa.

Penutup

Penerapan pembelajaran jarak jauh kini telah berkembang menjadi sistem pendidikan komplementer dalam memperluas jangkauan layanan pendidikan kepada masyarakat. Dalam konteks Provinsi NTB yang berciri wilayah kepulauan, hambatan geografis masih menjadi salah satu faktor pembatas akses pendidikan tinggi. Karena itu, peran Universitas Mataram (Unram) menjadi sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan layanan pendidikan melalui pengembangan pembelajaran daring yang terencana, berkualitas, dan berbasis regulasi yang jelas. Belajar dari praktik baik yang dikembangkan Universitas Terbuka, transformasi ini bukan sekadar soal penggunaan teknologi, tetapi tentang memperluas akses, menjaga mutu, dan memastikan bahwa pendidikan tinggi dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat secara adil dan berkelanjutan.

Oleh Markum, Guru Besar Unram, 10 Februari 2026