Akhirnya Unram ikut kena pangkas juga untuk program efisiensi alokasi anggaran nasional. Efisiensi sebesar 35% dari total anggaran 586,46 milyar rupiah bukanlah angka sedikit. Ini tentu akan menciptakan situasi ketidaknyamanan, karena hilangnya anggaran sebesar 204,8 milyar, dibutuhkan restrukturisasi atau penyesuain-penyesuain, agar tidak beresiko terhadap instabilitas kampus. Dan situasi seperti ini, saat ini dihadapi oleh semua Perguruan Tinggi Negeri se Indonesia. Efisiensi anggaran ini bermuara pada keinginan Presiden untuk mendukung program MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Program Danantara yang memerlukan anggaran 750 T. Waow, angka begitu fantasis. Bandingkan dengan angka APBD NTB pada tahun 2024, hanya sebesar 6,7 T.
Saya begitu penasaran, mengapa presiden begitu percaya diri mengusung dua program tersebut, disaat kondisi ekonomi negara sekarang ini yang tidak baik-baik saja. Artinya program yang butuh anggaran besar itu, bisa saja akan sangat beresiko berdampak pada aspek sosial, ekonomi dan politik di negeri ini. Apakah memang program tersebut akan mampu mengungkit daya tumbuh ekonomi, atau justru sebaliknya, menjadi martir bagi katalisator perubahan sosial yang buruk ?
Saya ingin mengeksplorasi hal tersebut, saya butuh narasumber yang cerdas, saya butuh narasumber yang obyektif, yang tidak berpihak pada kepentingan tertentu, narasumber yang setiap saat punya waktu. Maka saya putuskan untuk mewawancarai AI. Menarik tentunya, bagaimana membedah program efisiensi di Negara Indonesia ini dari perspektif AI (Artificial Intelligence). Berikut hasil wawancara saya dengan AI tersebut.
“Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan efisiensi anggaran untuk mendukung program MBG dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, bagaimana menurut anda, apa baik dan buruknya ?“
“Sisi baiknya, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah dapat meningkatkan efektivitas penggunaan dana negara dengan mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke program prioritas MBG dan BPI Danantara. Program MBG berpotensi meningkatkan gizi dan kesehatan anak-anak serta ibu hamil, yang dalam jangka panjang dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sementara itu, BPI Danantara dapat menjadi instrumen penting dalam mengelola investasi strategis, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta menarik lebih banyak investasi asing. Dengan mengurangi belanja yang tidak esensial, seperti perjalanan dinas dan acara seremonial, pemerintah dapat lebih fokus pada program yang berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Sisi buruknya, pemotongan anggaran berisiko menghambat kinerja berbagai sektor, terutama layanan publik yang bergantung pada anggaran pemerintah. Selain itu, sektor swasta yang bergantung pada belanja pemerintah, seperti industri perhotelan dan transportasi, juga berpotensi mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya perjalanan dinas dan kegiatan pemerintah lainnya. Jika tidak dikelola dengan baik, kebijakan ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku usaha serta masyarakat yang bergantung pada layanan pemerintah“.
“Ada satu pihak yang mengatakan bahwa dengan efisiensi anggaran dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi pihak lain sangat meragukan hal itu, menurut anda ?“
“Efisiensi anggaran bukan jaminan otomatis untuk pertumbuhan ekonomi. Dampaknya bergantung pada bagaimana dan di mana pemotongan dilakukan serta apakah dana tersebut dialihkan ke sektor produktif atau tidak. Jika efisiensi dilakukan secara cermat, dengan tetap menjaga layanan publik dan sektor produktif, maka dampaknya bisa positif. Namun, jika pemotongan dilakukan secara besar-besaran tanpa strategi yang jelas, justru bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi“.
“Menurut anda, apakah program MBG dan PMI Danantara ini realistis untuk diterapkan dalam kondisi ekonomi Indonesia saat ini? “
“Program ini secara konsep sangat baik, tetapi dalam kondisi ekonomi Indonesia saat ini, implementasinya menghadapi tantangan besar. Ada beberapa alasan mengapa program ini bisa dianggap tidak realistis dalam jangka pendek, tetapi mungkin bisa dilakukan secara bertahap atau dengan model yang lebih efisien. Saat ini, program ini dalam skala penuh belum realistis, mengingat keterbatasan anggaran, tantangan pengelolaan, dan infrastruktur yang belum siap. Namun, jika dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada daerah prioritas, dan melibatkan sektor swasta serta masyarakat, maka program ini bisa lebih masuk akal dan berdampak nyata bagi pembangunan Indonesia. “
“Menurut anda apa dampak politik yang terjadi akibat efisiensi anggaran ?“
“ Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pasti memiliki dampak politik yang cukup besar, baik secara internal (dalam negeri) maupun eksternal (hubungan dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, oposisi, dan investor). Efisiensi anggaran memiliki dampak politik yang kompleks, tergantung pada bagaimana cara pemerintah mengelolanya. Jika dilakukan dengan strategi komunikasi yang baik dan tetap menjaga program sosial utama, maka dampak negatifnya bisa diminimalisir. Namun, jika tidak transparan dan justru memperburuk kondisi ekonomi rakyat, bisa memicu krisis kepercayaan, demonstrasi, dan perubahan peta politik di pemilu mendatang.“
“Menurut anda, apakah resiko politik yang diterima pemerintah sekarang jika program efisiensi tidak berhasil ?“
“Secara teori, setiap pemerintahan bisa jatuh jika kondisi politik tidak stabil, termasuk pemerintahan sekarang yang sedang berjalan. Namun, dalam sistem politik Indonesia yang menganut presidensialisme, presiden memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan sistem parlementer. Artinya, meskipun ada instabilitas politik, tidak mudah bagi seorang presiden untuk jatuh sebelum masa jabatannya berakhir. Namun, jika kondisi ekonomi dan politik memburuk secara drastis, demonstrasi besar dan tekanan dari elite bisa mengancam stabilitas pemerintahan sekarang.“
”Sejauh ini, para ekonom yang seharusnya bersuara obyektif tentang efisiensi anggaran dan dampaknya terhadap dinamika nasional, lebih banyak diam, menurut anda mengapa demikian ?”
“Faktor yang paling mungkin adalah kombinasi dari tekanan politik, skeptisisme, dan konflik kepentingan. Sebagian ekonom takut berbicara terlalu keras karena tekanan politik. Beberapa ekonom mungkin merasa khawatir bahwa kritik terbuka terhadap kebijakan pemerintah bisa berujung pada tekanan politik. Sebagian lainnya skeptis dan merasa kritik mereka tidak akan didengar. Ada kecenderungan di beberapa kalangan akademisi untuk berdiskusi hanya di ruang tertutup (seminar, jurnal akademik) tanpa merasa perlu membawa opini mereka ke publik. Sikap skeptis ini bisa muncul karena pengalaman sebelumnya, di mana kritik akademik sering diabaikan oleh pemerintah.“
“Sebagian ekonom mungkin sudah menjadi bagian dari sistem dan kehilangan sikap kritisnya. Bisa jadi, sebagian ekonom juga sudah terlalu nyaman dengan status quo dan tidak merasa perlu bersikap kritis.Sebagian lainnya masih menunggu bukti nyata sebelum berbicara. Beberapa ekonom hanya akan berbicara setelah ada indikator ekonomi yang jelas, misalnya jika terjadi resesi, penurunan daya beli yang drastis, atau efek negatif yang benar-benar terlihat.“
“Lembaga kami saat ini terkena imbas dari program efisiensi, saat ini terjadi pengurangan alokasi anggaran sebesar 35%, apa saran anda ?“
“Dalam menghadapi pengurangan anggaran sebesar 35%, lembaga perlu memprioritaskan program yang memiliki dampak terbesar dan menunda atau mengurangi kegiatan yang kurang mendesak. Efisiensi operasional juga menjadi kunci, misalnya dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi, mengurangi biaya yang tidak esensial, dan menerapkan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas tanpa membebani anggaran. Selain itu, diversifikasi sumber pendanaan menjadi strategi penting, seperti mencari hibah, atau kerja sama dengan lembaga internasional guna mengamankan keberlanjutan program yang sudah berjalan.“
“Kolaborasi dan kemitraan dengan berbagai pihak juga dapat menjadi solusi untuk berbagi sumber daya serta meningkatkan efektivitas program dengan biaya lebih rendah. Selain itu, lembaga bisa mengeksplorasi inovasi model bisnis yang memungkinkan pendapatan mandiri, misalnya melalui jasa konsultasi, pelatihan berbayar, atau produk yang dapat dipasarkan. Dengan pendekatan berbasis data dan inovatif, lembaga dapat tetap berjalan secara efisien tanpa kehilangan fokus pada misi utamanya.“
“Sebelum wawancara saya akhiri, bisa anda buatkan gambar ilustrasi wawancara saya sengan anda, dalam format landscape ?“
“Ini ilustrasi dalam format landscape yang menggambarkan wawancara Anda dengan AI tentang Efisiensi Anggaran di Indonesia. Semoga cocok!“
Catatan: hasil gambar ilustrasi yang telah dibuat oleh AI, telah saya jadikan foto utama di atas.
“Terima kasih, senang diskusi dengan anda.“
“Sama-sama! Saya juga senang berdiskusi dengan Anda. Semoga strategi yang kita bahas bisa membantu lembaga Anda menghadapi tantangan ini.“
Oleh Markum, 21 Februari 2025