RUSDI TAGAROA SANG HUMAN KATALISATOR
Dia memanggilku Mek
Dia memiliki postur tubuh kurus, tinggi kurang lebih 170 cm, rambutnya lurus sedikit bergelombang dan sebagain sudah beruban. Kalau berbicara selalu disertai dengan senyum dan intonasi suara ringan sedikit logat madura. Maklum dia berasal dari Situbondo, daerah tapal kuda komunitas Madura di Jawa Timur. Namun dibalik posturnya yang terkesan ringkih tersebut, sesungguhnya dia memiliki otak yang cerdas dan pemikiran besar.
Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Unram angkatan tahun 1983, dan saat mahasiswa, sangat fasih menguasai teori ekonomi dari beragam mahzab: Max Weber, Engels, Fisher, Keynes, juga sangat handal memahami teori ekonomi Karl Marx, seorang filsuf dan ekonom dari jerman. Dimana pada era itu, pandangan tentang Karl Marx sangat diharamkan oleh penguasa, membicarakan atau diskusi tentang Marxisme, akan dianggap sebagai musuh negara.
Bukan hanya soal ekonomi, Dia juga sangat tertarik dengan pandangan-pandangan tentang falsafah politik, agama, kebudayaan dan perubahan sosial. Pembawaannya sangat bersahaja, mudah akrab dengan siapa saja, dan ringan kaki untuk mengunjungi kawan-kawannya. Tidak heran jika dengan profil seperti itu, sosok Rusdi Tagaroa sangat akrab dengan banyak mahasiswa, khususnya aktivis mahasiswa di seluruh fakultas yang ada di Unram.
Selama kenal dengan Dia, tidak pernah saya dengar dia mengeluh tentang dirinya, dia selalu akan asyik bicara tentang situasi politik, kekuasaan, gerakan mahasiswa dan bias demokrasi. Kalaupun toh dia mengeluh, ya karena keprihatinannya terhadap hegemoni negara yang dianggap dominan dan melahirkan penguasa tiran terhadap rakyatnya.
Dialah yang menjadi inspirasi melahirkan pemikiran kritis para mahasiswa untuk berani menyuarakan kebenaran, menggugat ketidakadilan dan memecah kebekuan kampus yang saat itu dalam cengkeraman kekuasaan orde baru. Dialah yang menjadi perekat mahasiswa untuk aksi-aksi para mahasiswa yang sempat membuat Rektor Unram kewalahan saat itu.
Dia sangat getol mengajak aktivis mahasiswa untuk menulis, dan salah satu majalah kampus yang dia bidani adalah Lecturer, majalah yang diterbitkan oleh mahasiswa ekonomi, tetapi juga menampung tulisan mahasiswa fakultas lain. Saya termasuk yang sering ditagih untuk mengisi tulisan di Majalah tersebut. Di saat mahasiswa, dia juga rajin terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat di salah satu desa di Poto Kabupaten Sumbawa dan melahirkan salah satu LSM yang bernama LOH (Lembaga Olah Hidup) yang eksis sampai sekarang. Salah satu event fenomenal yang pernah dilakukan adalah menyelenggarakan kemah kebudayaan, ajang diskusi ragam pemikiran kebudayaan yang dilakanakan di Gili Air, Lombok.
Saya memanggilnya Rus, dan dia memanggilku Mek.
“Rus, kelihatanya pikiranmu terus berkelana memikirkan banyak hal, memikirkan sesuatu yang tidak pernah berujung dengan jelas, apa kamu yakin apa yang kamu lakukan ini akan membuat perubahan?” Kataku suatu kali saat ngobrol lepas.
Dia tertawa mendengar sentilan saya tersebut.” Setidaknya untuk perubahan dalam mindset berpikir teman-teman mahasiswa Mek.” Katanya. Kuliah saja tanpa diikuti dengan kesadaran kritis, hanya akan melahirkan generasi cerdas kognitif, tapi belum tentu memiliki kecerdasan empatif. Artinya memiliki logika pintar, tetapi belum tentu punya empati, belum tentu punya kepekaan terhadap situasi disekitarnya. Kecerdasan seperti itu akan mudah digiring untuk kepentingan pragmatis, dan bisa jadi melahirkan intelektual yang tidak merdeka, yaitu intelektual yang sulit mengatakan tidak, meskipun dia sebenarnya ingin mengatakan tidak.”
“Terus kapan kamu memikirkan dirimu sendiri Rus?”
“Misalnya apa Mek?”
“Misalnya, selama ini saya tidak pernah melihat kamu punya teman spesial perempuan, memang kamu tidak pernah tertarik pacaran dengan perempuan?” Godaku.
“Ha ha ha… Hantu Blau kamu Mek.”
Human Katalisator
Pada tahun 2016, saya bertemu dia di Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Kelihatanya dia sedang kolaborasi dengan salah satu Direktorat, untuk mengerjakan proyek tertentu. Apa yang saya lihat, profilnya sama ketika masih mahasiswa dulu, tidak ada yang berubah. Di acara Kementerian tersebut, saya hadir mewakili Universitas Mataram.
Dalam satu sessi pengarahan oleh seorang Direktur, saya terpukau dengan uraian sang direktur yang piawai memberikan pandangan tentang teori perubahan sosial dan pemberdayaan masyarakat desa dalam dimensi yang (menurut pandangan saya) begitu progresif dan inovatif. Karena jarang sekali saya jumpai ada pemikiran birokrat seperti dia, yang biasanya cenderung berpikir praktis, prosedural dan mekanistik.
Ketika masuk sessi istirahat, saya sempat ngobrol sama Rusdi. Rusdi mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Direktur tadi, sejatinya adalah pandangan-pandangan dia. Dia sangat senang karena gagasan-gagasannya telah diadopsi untuk konsep pembangunan desa di Indonesia. Dalam hati saya bergumam,” pantas saja, lha arsiteknya si Rusdi.”
Ketika dia hadir menemui seseorang, begitu mudahnya bagi seseorang tersebut untuk menerimanya sebagai kawan, dan juga menerima pemikiran-pemikarannya, bahkan sekelas pejabat tinggi seperti direktur kementerian tadi. Saya kembali teringat, bagaimana dulu saat mahasiswa, Rusdi selain rajin diskusi dengan mahasiswa juga sangat dekat dengan beberapa pentolan LSM, diantaranya YLKMP, LP3ES, SANTAI dan KOSLATA.
Pikirannya yang bebas, tanpa ada pretensi dan kepentingan pribadi, gayanya yang lugas, tanpa merasa perlu ada sekat dengan posisi seseorang, barangkali itulah mengapa sosok dia begitu mudah masuk dan diterima pada berbagai kelompok dan komunitas.
Dia memiliki human katalisator, bisa dengan mudah mempengaruhi orang lain, tetapi tidak merubah eksistensi dirinya. Dia mudah bisa diterima orang, karena dia tidak pernah membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan kata-katanya, atau terganggu dengan sikapnya. Kapanpun dia hadir, sikap orang akan selalu sama, menyambut dia dengan senyum. Dan dia masih tetap ada di hati setiap para sahabatnya.
Saya tidak begitu mengikuti WAG “Kawan Mas Rusdi Tagaroa” dan bahkan terlambat untuk menyimak isinya. Dan setelah saya lihat di WAG tersebut, begitu banyaknya postingan diskusi tentang Rusdi. WAG tersebut telah menjadi media reuni para sahabatnya. Ah Rusdi yang baik, Rusdi yang bersahaja, Rusdi yang idealis, kamu selalu hadir menjadi daya ikat para sahabatmu, bahkan ketika kamu sudah pergi untuk selamanya. Kamu benar-benar human katalisator.
———ooo———-