Di sebuah desa yang adem ayem, hiduplah seorang janda kembang bernama Hartina. Cantik, ramah, dan tetap berseri meski usianya sudah lebih dari setengah abad. Pesonanya membuat tiga pak tua kepincut: Widi si juragan tembakau, Baskara sang motivator ulung, dan Juli, pedagang ayam yang tajir melintir. Masalahnya, ketiganya sudah beristri! Tapi dasar hidung belang, mereka tetap berlomba memikat Hartina.
———
Suatu sore di warung kopi, ketiga pria ini bertemu dan langsung saling sindir.
“Tin, aku baru dapat untung besar jualan tembakau. Nih, aku bawakan kamu kain sutra dari kota,” kata Widi sambil meletakkan bungkusan di meja Hartina.
Hartina tersenyum manis, “Duh, Widi. Aku jadi malu. Tapi yaa… terima kasih, ya.”
Baskara mendelik, tak mau kalah. “Ah, Widi. Cuma kain sutra? Tin, aku belikan kamu gelang emas. Kalau sama aku, hidupmu bahagia. Aku ini motivator, tahu caranya bikin orang senang lahir batin!”
Hartina cekikikan sambil menerima gelang dari Baskara. Sebelum sempat dia berbicara, Juli menyikut lengan Hartina pelan. “Ah, itu kecil Tin, aku belikan kamu satu ekor ayam kalkun dari luar negeri. Dagingnya enak, tinggi protein. Kamu butuh gizi yang baik biar makin cantik.”
Hartina makin sumringah. “Astaga, kalian ini baik banget, sih! Aku sampai bingung mau pilih yang mana.”
Ketiga pria itu saling melotot.
“Jangan begitu, Tin! Aku lebih unggul. Aku ini pekerja keras, bukan cuma jual omongan!” Widi menyindir Baskara.
“Halah! Apa gunanya kerja keras kalau nggak bisa memotivasi wanita bahagia?” Baskara menukas.
“Ssst! Kalian tahu nggak? Wanita itu nggak cuma butuh omongan dan kerja keras. Tapi juga… duit!” Juli menyeringai, menggoyang-goyangkan dompet tebalnya.
Mereka bertiga pun makin bersemangat bersaing.
————-
Hartina menikmati perhatian itu. Setiap hari ada saja hadiah yang datang. Satu hari Widi membawakan parfum mahal, esoknya Baskara membelikan lipstik impor, dan besoknya lagi Juli mengirim satu koper berisi kain batik premium.
Suatu hari, ketiganya bertemu lagi di rumah Hartina.
“Tin, ini hadiah dari aku. Saya yakin kamu menyukai ini,” kata Widi.
“Ah, Tin, jangan mudah tergoda! Aku ini bisa menjamin kebahagiaanmu. Cukup denganku saja,” Baskara menyahut.
Juli mendengus. “Hei, kalian berdua ini nggak ada capeknya ya? Hartina itu butuh pria yang bisa menjamin masa depannya. Dan yang bisa itu… aku!”
Hartina hanya tersenyum, menanggapi ketiganya dengan gaya menggoda. “Aduh, aku jadi bingung. Kalian semua baik banget! Tapi… aku butuh waktu buat mikir.”
————-
Bulan berganti bulan. Widi mulai kewalahan. Setiap kali dapat untung, langsung habis buat hadiah ke Hartina. Stok tembakaunya menipis, hutang mulai menumpuk.
Baskara juga tak lebih baik. Seminar motivasinya mulai sepi karena dia terlalu sibuk mengejar cinta Hartina. Bahkan audiensnya lebih banyak mendengar cerita tentang “cara memikat janda kembang” daripada motivasi hidup.
Sementara itu, Juli mulai keteteran. Harga ayam sedang jatuh, dan dia sudah terlalu banyak menghamburkan uang.
Akhirnya, mereka bertiga bertemu di warung kopi lagi. Kali ini, wajah mereka kusut dan kantong kering.
“Gawat… aku bangkrut,” keluh Widi sambil menyesap kopinya.
“Aku juga… Aku lupa bayar cicilan mobil. Gara-gara terlalu fokus ke Hartina,” Baskara mengeluh.
Juli menatap kosong, “Ayam-ayamku dijual murah. Uang habis buat beli hadiah ke Hartina. Sudahlah, kita semua kena!”
Saat itulah, mereka melihat Hartina berjalan melewati warung. Hartina tampak lebih berseri dari biasanya, mengenakan perhiasan hasil pemberian mereka bertiga. Namun, ia menggandeng seorang pria paruh baya yang belum pernah mereka lihat.
“Hartina, siapa dia?!” seru Widi.
Hartina tersenyum manis. “Oh, ini Pak Bambang, kepala koperasi desa. Kami mau pergi ke acara keluarga.”
“Loh?! Jadi selama ini… kamu nggak pilih salah satu dari kami?” tanya Baskara kaget.
Hartina tertawa, “Ya ampun, kalian lucu sekali! Aku cuma menikmati perhatian kalian. Tapi kalau untuk serius… aku lebih suka pria yang setia dan nggak banyak neko-neko.”
Ketiga pria itu langsung lemas.
“Duh, kita bertiga habis-habisan buat dia, dan akhirnya dia milih kepala koperasi?!” keluh Juli.
“Jadi selama ini kita cuma ATM berjalan?!” Widi menepuk dahinya.
Baskara menghela napas. “Ya sudahlah, setidaknya kita sudah berjuang… dengan cara yang bodoh.”
Mereka bertiga pun saling menatap, lalu tertawa miris. Akhirnya, mereka sadar bahwa cinta sejati bukan soal hadiah dan rayuan, tapi tentang ketulusan. Dan sialnya, mereka sudah kehilangan banyak uang untuk pelajaran ini.
———–
Setelah kejadian itu, ketiga pria kembali ke istri mereka masing-masing dengan harapan bisa menebus kesalahan. Sayangnya, nasib berkata lain. Begitu mereka pulang, para istri sudah siap dengan gagang penggorengan di tangan.
“WIDI! UANG KEMANA SEMUA?!”
“BASKARA! GELANG EMASKU KOK NGGAK ADA?!”
“JULI! AYAM-AYAM KITA KEMANA?!”
Malam itu, desa kembali riuh. Tapi bukan karena godaan-godaan manis, melainkan teriakan para istri yang akhirnya tahu kebodohan suami-suami mereka.
Oleh Markum, 24 Februari 2025
