Di sebuah desa yang tenang tapi penuh kehebohan, hiduplah seorang perempuan paruh baya bernama Sutinah. Hobinya lari. Setiap pagi dia lari keliling desa, siang lari ke pasar, sore lari ke rumah tetangga. Pokoknya, kalau ada kesempatan lari, dia lari! Tapi sayangnya, sampai sekarang dia masih sendiri.
“Aku mau cari suami, tapi harus yang bisa mengalahkan aku dalam lari!” begitu pengumumannya di spanduk yang dia pasang di depan rumah. Hadiahnya bukan hanya dapat dia, pemenangnya juga akan mendapatkan rumah tipe 60 seharga 900 juta dan sebuah mobil Pajero seharga 800 juta! Tentu saja, pengumuman ini bikin geger satu kampung.
Maka datanglah tiga pelamar: Bakri, Sutarja, dan Agus.
—————————-
Di halaman rumah Sutinah, ketiga lelaki ini berbaris gagah.
Bakri, si pengusaha mutiara, melipat lengan baju dan menunjukkan ototnya. “Aku ini tiap hari nyelam ke laut, berenang melawan ombak! Lari? Gampang!”
Sutarja, petani kopi sukses, mengangguk percaya diri. “Aku tiap hari panen kopi di gunung. Jalanku naik-turun bukit, kaki ini sudah biasa berlari.”
Agus, si pegawai negeri, tersenyum kecut. “Saya sih lebih biasa lari dari tugas tambahan di kantor…” katanya pelan.
Sutinah terkikik. “Baik! Besok kita adakan lomba lari 100 meter! Siapa yang menang, dialah yang jadi suamiku!”
————————-
Pagi harinya, semua warga desa sudah berkumpul di pinggir jalan, siap menyaksikan lomba bersejarah ini.
“Siap-siap!” teriak Sutinah.
Ketiga lelaki itu merunduk, siap melesat.
“Siaaap… Mulai!”
Bakri langsung tancap gas, berlari secepat angin. Tapi baru 10 meter, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari kerumunan orang dipinggir jalan .
“BAKRIIII!!! PULANG KAMU SEKARANG!!!” teriak seorang perempuan dengan wajah garang.
Bakri berhenti seketika, wajahnya pucat.
“I-isteriku…! Lupa aku bilang kalau mau ikut lomba!” Tanpa pikir panjang, Bakri langsung balik badan dan kabur… ke arah rumahnya!
Warga kampung tertawa terpingkal-pingkal.
Sutarja yang tadinya berlari mantap, tiba-tiba wajahnya berubah aneh dan pucat.
“Aduh… perutku nggak enak…!” gumamnya sambil memegang perutnya. Tiba-tiba dia merasakan mual luar biasa diperutnya.
Ternyata, dia semalam minum teh basi! Saking mualnya, Sutarja langsung jongkok di pinggir jalan, menahan diri agar tidak memuntahkan harga dirinya di depan warga. Dan kemudian dia terkapar dipinggir jalan.
Agus, yang sejak awal tahu diri tidak akan menang, menoleh ke kanan dan kiri. “Lho? Kok lawanku nggak ada?”
Menyadari lawan-lawannya sudah gagal duluan, pelan-pelan, dia mulai berjalan santai ke garis finish. Bukan berlari, tapi berjalan. Sesekali dia berhenti untuk minum dan melap keringat. Warga sampai bosan menunggu.
Setelah 30 menit, akhirnya dia sampai di garis finish. Ini termasuk waktu paling lama di dunia, dalam sejarah lomba lari 100 m.
Warga kampung bersorak.
“Selamat, Agus! Kamu pemenangnya!” Sutinah juga ikut bersorak.
————————–
Sutinah tersenyum lebar, siap memberikan hadiahnya.
“Agus, kamu berhak atas rumah tipe 60 seharga 900 juta, mobil Pajero 800 juta, dan tentu saja juga… aku!”
Agus tentu saja sangat senang. Tetapi tiba-tiba dia merasa ragu. “Sebentar, sebentar… Itu rumah dan mobil sudah lunas, kan?”
Sutinah batuk kecil. “Ehem, belum sih. Rumah kredit selama 10 tahun, dan baru sekali cicilan. Mobil juga kredit 5 tahun, dan baru dicicil sekali. Tapi karena kamu menang, semuanya sekarang atas namamu! Tinggal bayar sisa cicilan aja.”
Agus terdiam. “Berarti aku yang harus nyicil semuanya?!” Wajahnya berubah panik.
“Yah, kan kita pasangan. Bersama dalam suka dan duka!” Sutinah tersenyum penuh harapan.
Agus keluar keringat dinginnya, kemudian dia mundur pelan-pelan.
“Sutinah, aku ini ASN, bukan juragan mutiara seperti Bakri atau petani kopi sukses seperti Sutarja. Gaji aku pas-pasan. Kalau aku harus bayar cicilan segitu… a aku sungguh tidak sanggup!”
Kemudian Agus mengambil ancang-ancang, dia membalikkan badan dan wussh….lari menjauh dari Sutinah.
“Hei Agus ! Mau kemana kamu?“ Kata Sutinah sambil mengejar Agus.
Warga desa kembali terpingkal-pingkal melihat Agus lari terbirit-birit, sambil napasnya tersengal-sengal. Kali ini bukan untuk lomba lari, tapi untuk menyelamatkan diri dari kejaran Sutinah!
“Ah sialan, akhirnya aku jadi lari beneran.“ Gerutu Agus sambil napasnya sudah mau copot.
Oleh Markum, 24 Februari 2024
