MEMAHAMI MENGAPA PERLU ADA PROGRAM PROFESOR BERDAMPAK

“Kita sebagai professor saat ini telah mendapatkan tunjangan jabatan yang lumayan besar, sudahkah apa yang kita terima sepadan dengan kontribusi kita untuk masyarakat?” Itu salah satu prolog menggelitik yang disampaikan oleh Rektor Unram dalam sambutan pembukaan pada acara Brainstorming Program Profesor Berdampak, Kamis, 9 April 2026 di Prime Park Hotel, Mataram.        

Saya mencoba searching di google tentang istilah “Program Profesor Berdampak”, dan tidak menemukan adanya program tersebut di Perguruan Tinggi manapun. Ini murni gagasan dari Rektor Unram (Prof.Dr.Sukardi,M.Pd), dan tentu saja kita perlu mengapresiasinya. Setidaknya ada empat hal yang bisa saya pahami mengapa Rektor Unram perlu menggulirkan program tersebut.

Pertama, Program Profesor Berdampak merupakan respons yang cepat dan kongkret  Rektor Unram, atas telah ditetapkan Program Kampus Berdampak oleh Kementerian Dikti Saintek. Program ini menegaskan bahwa capaian perguruan tinggi tidak lagi semata berorientasi pada capaian peringkat, publikasi, atau jumlah lulusan yang cenderung akademik dan administratif, melainkan Perguruan Tinggi harus mampu menjadi motor penggerak perubahan sosial, ekonomi, lingkungan, kelembagaan dan kebudayaan melalui kontribusi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kedua, Profesor merupakan sumber daya strategis dan krusial di universitas, karena telah melalui proses panjang pengakuan akademik yang menegaskan kapasitasnya sebagai pakar pada bidang keilmuan tertentu. Gelar profesor tidak hanya mencerminkan capaian tertinggi dalam jenjang akademik, tetapi juga menjadi legitimasi atas kedalaman pengetahuan, kematangan berpikir, serta konsistensi kontribusi ilmiah yang dimiliki. Dengan kompetensi tersebut, profesor memegang peran penting sebagai penggerak utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus sebagai rujukan intelektual dalam merespons berbagai persoalan masyarakat.

Ketiga, Profesor berdampak harus memiliki andil dalam mendukung pencapaian arah pembangunan di NTB yang saat ini difokuskan pada tiga prioritas utama, yaitu penanggulangan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan pengembangan pariwisata berkelas dunia. Melalui pengabdian masyarakat yang berbasis pada integrasi keilmuan (interdisciplinary), para profesor diharapkan dapat menghadirkan solusi inovatif, tematik yang relate dengan kebutuhan kongkrit daerah.

Keempat, Unram saat ini memiliki kurang lebih 120 Guru Besar aktif—sebuah potensi sumber daya akademik yang sangat signifikan. Tantangannya adalah bagaimana mengakselerasi dan menyalurkan energi intelektual para profesor tersebut agar terorganisasi dan berdampak nyata melalui implementasi program. Menjawab hal itu, Rektor Unram telah menyediakan dukungan pendanaan sebesar Rp2 miliar pada tahun ini, dengan skema pembiayaan maksimal Rp100 juta untuk setiap kelompok. Dukungan ini merupakan langkah konkret untuk mendorong hilirisasi gagasan, memperkuat kolaborasi interdisipliner, serta memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan hadir sebagai solusi nyata untuk masyarakat.

Sebagai sebuah program baru,  maka sudah sewajarnya timbul pertanyaan dan pendapat yang beragam dari para professor, sebagaimana diskusi yang sedang rame pada pada WAG Forum Guru Besar Unram. Justru menurut saya professor memang harus cerewet dengan pemikiran kritis. Dalam konteks Profesor Berdampak, hal itu penting sebagai masukan untuk “Pedoman Implementasi Program Professor Berdampak”  yang saat ini sedang disusun oleh tim.

—-ooo—